Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Dusun Cancing, Jejak Sunyi Kerajaan Majapahit dan Wali Songo di Lamongan

Bachtiar Febrianto • Kamis, 24 Juli 2025 | 01:15 WIB
Makam Dewi Andongsari, Ibunda Patih Gajah Mada, di Dusun Cancing Kecamatan Ngimbang
Makam Dewi Andongsari, Ibunda Patih Gajah Mada, di Dusun Cancing Kecamatan Ngimbang

RADARLAMONGAN.CO, JAWAPOS.COM - Tak banyak yang tahu, di balik tenangnya lanskap perbukitan hutan jati di Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, menyimpan jejak penting sejarah Nusantara.

Di dusun inilah, bertemu dua arus besar peradaban Jawa, kebesaran Kerajaan Majapahit dan dakwah Islam ala Wali Songo. Sebuah perpaduan sejarah yang menjadikan Cancing lebih dari sekadar nama dusun—ia adalah simpul memori bangsa yang terlupakan.

Situs Gunung Ratu, Makam Ibunda Gajah Mada

Di Dusun Cancing terdapat sebuah bukit yang oleh warga disebut Gunung Ratu. Di puncak bukit itu terdapat kompleks makam tua yang dipercaya sebagai makam Dewi Andongsari, ibunda Mahapatih Gajah Mada.

Berdasarkan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun, Dewi Andongsari adalah selir dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit.

Karena konflik istana, ia disebut diasingkan ke wilayah hutan di barat daya Lamongan—yang kini dikenal sebagai Cancing. Di tempat itulah ia melahirkan Gajah Mada dan kemudian wafat di tempat pengasingan tersebut.

Meski belum terkonfirmasi secara arkeologis, keyakinan masyarakat lokal cukup kuat. Situs Gunung Ratu kini menjadi lokasi ziarah, terutama pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat Kliwon dan bulan Maulid.

Kompleks makam itu dipugar oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan pada 2022, menjadikannya lebih layak sebagai lokasi wisata sejarah dan religi.

Di sekitar makam juga terdapat dua petilasan unik: pusara Kucing Condromowo dan Garangan Putih, yang diyakini sebagai hewan peliharaan Dewi Andongsari. Legenda ini semakin memperkuat aura mistis sekaligus narasi humanis dari figur ibunda tokoh besar Majapahit itu.

Tempat Lahir Tokoh Penting Lamongan: Mbah Lamong.

Tak hanya Majapahit, Dusun Cancing juga erat hubungannya dengan sejarah awal Kabupaten Lamongan. Di dusun inilah lahir seorang tokoh bernama Hadi, yang kemudian menjadi santri Sunan Giri di Gresik.

Dalam riwayat lisan, Hadi dipercaya sebagai murid kesayangan Sunan Giri, dan pada suatu masa diperintahkan untuk membuka kawasan baru di wilayah barat Gresik. Hadi akhirnya menetap dan membangun pemerintahan lokal, serta diberi gelar Tumenggung Surajaya.

Pada 26 Mei 1569, Tumenggung Surajaya diangkat sebagai pemimpin pertama wilayah yang kelak menjadi Kabupaten Lamongan. Itulah sebabnya, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Jadi Lamongan hingga kini. Hadi kemudian lebih dikenal dengan sebutan Mbah Lamong, dan menjadi figur penting dalam sejarah Islamisasi dan administrasi awal wilayah Lamongan.

Mengapa Dusun Cancing Penting?

Dusun Cancing bukan sekadar kampung di lereng perbukitan. Ia menyimpan dua warisan besar: semangat perjuangan Dewi Andongsari sebagai ibu tunggal dari pemimpin besar Majapahit, dan kontribusi Mbah Lamong dalam membangun tatanan awal pemerintahan Islam di Jawa Timur.

Kombinasi ini menjadikan Cancing sebagai situs penting sejarah dan religi, yang seharusnya masuk dalam peta wisata budaya Lamongan maupun Jawa Timur.

Selain itu, pemahaman masyarakat atas jejak lokal ini bisa menjadi alat pendidikan karakter, terutama untuk generasi muda yang haus akan figur sejarah yang membumi dan relevan dengan daerah asal mereka.

Potensi Pengembangan.

Dengan posisi geografis yang masih alami dan suasana hening, Cancing memiliki potensi dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah. Jalur ziarah “Giri–Gunung Ratu–Makam Mbah Lamong” bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Bahkan, sebuah sendang (sumber air) di dekat Gunung Ratu – yang diyakini tempat mandi Dewi Andongsari- bisa dikembangkan menjadi obyek wisata air, seperti pemandian atau sejenisnya.

Dusun Cancing adalah titik temu peradaban—tempat di mana legenda, sejarah, dan spiritualitas menyatu dalam senyap. Kini tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintah menyadari nilainya, lalu menatanya menjadi warisan yang lebih hidup bagi Indonesia hari ini dan esok. (feb)

Editor : Anjar D. Pradipta
#sunan giri #gunung ratu #lamongan #Mbah Lamong #Ngimbang #dusun cancing #gajah mada #dewi andongsari #majapahit