Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Sungai Lamong: Sungai Bersejarah yang Menyimpan Jejak Islam dan Mitos Panji Laras

Bachtiar Febrianto • Jumat, 27 Juni 2025 - 05:09 WIB
Dibalik aliran sungai kali lamong juga menyimpan banyak peninggalan kisah dan sejarah.
Dibalik aliran sungai kali lamong juga menyimpan banyak peninggalan kisah dan sejarah.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO, – Sungai Lamong yang mengalir membelah wilayah selatan Kabupaten Lamongan menyimpan kisah panjang yang sarat makna.

Tidak sekedar jalur air, sungai ini menjadi saksi dakwah para wali, medan peristiwa mitologis kerajaan, hingga tempat ditemukannya artefak purbakala yang mengungkap keberadaan peradaban kuno di Lamongan.

Jalur Dakwah Santri Sunan Giri.

Sekitar abad ke-16, seorang santri dari Sunan Giri yang bernama Hadi mendapat perintah untuk membuka wilayah kekuasaan baru di barat Giri.

Ia menyusuri Sungai Lamong sebagai jalur transportasi utama menuju pedalaman Lamongan.

Perjalanan ini membawanya ke Dukuh Srampoh, yang kini dikenal sebagai Pamotan, Kecamatan Sambeng, lalu ke Puncakwangi di Babat, hingga ke Kenduruhan yang kini menjadi Kelurahan Sidokumpul, jantung Kota Lamongan.

Keberhasilannya dalam membina masyarakat dan menyebarkan ajaran Islam menjadikan Hadi diangkat sebagai adipati pertama Lamongan. Penobatan tersebut dilakukan oleh Sunan Giri IV atau Sunan Prapen pada tanggal 26 Mei 1569.

Gelar kehormatan Tumenggung Surajaya disematkan padanya, dan tanggal pengangkatannya kini diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Lamongan. Makamnya masih terawat hingga kini di Kelurahan Tumenggungan.

Penemuan Purbakala di Pamotan.

Wilayah Pamotan di Kecamatan Sambeng, yang berada tepat di tepian Sungai Lamong, menyimpan bukti kuat bahwa kawasan ini telah menjadi pusat aktivitas manusia sejak masa kerajaan kuno.

Sejumlah penemuan arkeologis seperti yoni, fragmen arca batu, batu bata kuno berukuran besar, hingga pecahan keramik asing ditemukan di kawasan ini oleh warga dan peneliti.

Temuan tersebut diyakini berasal dari masa Kerajaan Medang hingga Majapahit. Para arkeolog menyebutkan, letak Pamotan yang strategis di dekat aliran Sungai Lamong menjadikannya lokasi yang ideal sebagai permukiman atau pusat aktivitas keagamaan dan perdagangan masa lalu.

Penelitian dari Balai Arkeologi Yogyakarta menguatkan dugaan bahwa peradaban berkembang pesat di sepanjang aliran sungai ini.

Kisah Panji dan Tradisi Melamar Pria.

Sungai Lamong juga menjadi latar dari salah satu mitos yang paling dikenal di Lamongan, yakni kisah pertunangan antara Panji Laras dan Panji Liris dari Lamongan dengan dua putri dari Kediri, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi.

Dalam kisah rakyat yang berkembang turun-temurun, dua putri Kediri datang dengan membawa gentong air dan alas batu untuk melamar kedua Panji melalui jalur Sungai Lamong.

Namun, ketika sedang menyeberangi sungai, kaki para putri itu terlihat berbulu, yang dianggap sebagai pertanda buruk.

Lamaran mereka ditolak oleh Panji Laras dan Panji Liris, yang kemudian memicu kemarahan besar dan pertempuran sengit antara pihak Kediri dan Lamongan.

Akibat peristiwa itu, seluruh tokoh dalam cerita dikisahkan gugur. Sang Adipati Lamongan bahkan berpesan agar keturunannya kelak tidak menikah dengan orang Kediri.

Tragedi ini melahirkan tradisi unik di Lamongan yang masih dikenal hingga kini, yaitu perempuan yang melamar laki-laki. Meski sudah jarang dipraktikkan secara nyata, tradisi ini tetap hidup dalam budaya tutur, menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Lamongan.

Sungai sebagai Jalur Strategis Masa Silam.

Lebih dari sekadar kisah mistik dan sejarah lokal, Sungai Lamong juga memiliki peran nyata sebagai jalur transportasi penting pada masa lampau.

Dalam era sebelum pembangunan jalan raya modern, sungai ini menjadi jalur vital yang menghubungkan pesisir utara Jawa seperti Gresik dengan kawasan pedalaman seperti Sambeng, Babat, hingga Lamongan kota.

Perahu-perahu kecil sering digunakan untuk mengangkut hasil bumi, pedagang, maupun para ulama yang berdakwah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Fungsi strategis ini menjadikan Sungai Lamong sebagai urat nadi kehidupan masyarakat masa lalu. Bahkan dalam sejumlah peta kolonial Belanda, sungai ini disebut sebagai aliran yang cukup aktif dan dilalui oleh berbagai aktivitas ekonomi dan keagamaan.

Warisan yang Terus Mengalir.

Hari ini, Sungai Lamong memang tak lagi ramai dengan perahu dan aktivitas perdagangan. Namun warisan sejarahnya tetap hidup dalam bentuk makam Tumenggung Surajaya yang diziarahi banyak orang, benda purbakala yang ditemukan di Pamotan, serta kisah Panji dan putri Kediri yang masih diceritakan dari generasi ke generasi.

Sungai ini tak hanya mengalirkan air, tetapi juga mengalirkan nilai, budaya, dan identitas masyarakat Lamongan yang tetap lestari hingga hari ini.

Sungai Lamong membuktikan bahwa aliran sungai bisa menjadi penghubung bukan hanya antarwilayah, tapi juga antar zaman menjembatani masa lalu dan masa kini dalam satu kesatuan kisah yang sarat nilai sejarah dan budaya.(feb)

Editor : Anjar D. Pradipta
#Peradaban Kuno #sunan giri #sungai Lamong #surajaya #lamongan #artefak purbakala #sejarah