LAMONGAN, Radarlamongan.co – Aura mistis cukup terasa ketika berada Situs Sitinggil di Dusun Bendo, Desa Mojorejo, Kecamatan Modo. Pemerhati sejarah menilai jika situs tersebut peninggalan zaman megalitikum.
Sebaliknya, warga sekitar meyakini jika itu ada keterkaitan dengan Jaka Modo atau Patih Gajah Mada waktu muda.
Warga sekitar biasanya wudhu terlebih dulu saat menuju ke Situs Sitinggil. Lokasi Situs Sitinggil tak jauh dari pemakaman umum desa.
Dari jalan desa jaraknya sekitar 200 meter, dengan medan yang menanjak untuk menuju ke lokasinya.
Kepala Dusun Bendo Tamijo mengatakan, Situs Sitinggil ini merupakan tempat bersejarah. Berdasarkan cerita turun temurun, ini merupakan peninggalan Patih Gajah Mada.
Warga setempat mengartikan Sitinggil berasal dari dua suku kata, yakni siti berarti tanah dan tinggil merupakan tinggi.
Konon katanya, Sitinggil ini tempat mengembalanya Patih Gajah Mada waktu kecil. Jadi tempat ini digunakan Patih Gajahmada memantau hewan ternak saat waktu kecil.
‘’Banyak dikunjungi dari orang-orang dari luar, kadang dari Bali, banyak dari Mojokerto,’’ ujarnya.
Tamijo menuturkan, situs ini ramai dikungungi saat hendak ada pemilihan umum (Pemilu) DPRD, bupati, hingga presiden.
‘’Bahkan kemarin waktu mau pemilihan bupati juga semuanya datang ke sini,’’ tukasnya.
Salah satu pemerhati budaya di Lamongan, Supriyo menjelaskan, Situs Sitinggil ini adalah sebuah bangunan punden berundak zaman megalitikum.
Menurut dia, jejak megalitikum yang pernah diidentifikasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
‘’Sitinggil sendiri adalah sebuah tatanan batu-batu alami yang dibentuk menyerupai sebuah punden berundak, dengan beberapa tingkatan dan bagian puncaknya dapat ditempati sebagai aktivitas semedi atau ritual lainnya,’’ imbuhnya.
Pemerhati budaya di Lamongan lainnya, Mohammad Nafis menuturkan, Kecamatan Modo yang dikaitkan dengan masa kecil Patih Gajah Mada bukan hal yang baru.
Dia menjelaskan, kepercayaan masyarakat itu pernah dilaporkan oleh J.A.B Wiselius, pejabat kontroler pada masa kolonial Belanda pada akhir abad 19 M tepatnya sekitar Tahun 1870-an.
‘’Dan beberapa tempat kuno di sekitarnya dengan tokoh Gajah Mada,’’ katanya.
Sedangkan, menurut dia, terdapat keterangan dari foto badan arkeologi Belanda terkait Sitinggil, yakni itu sebagai bangunan megalitik.
‘’Tak ada yang salah dari dua tafsir ini. Bisa jadi di masa kecilnya Gajah Mada memang biasa bermain di bekas bangunan megalitikum ini, yang memang merupakan tempat sacral, terutama bagi kepercayaan warga lokal,’’ terang Nafis.
Terdapat Sendang Setaman yang Tak Pernah Surut Meski Kemarau Panjang.
SITUS SITINGGIL dan Sendang Setaman saling berkaitan, meski lokasinya tidak bersebelahan. Sendang Setaman berada tengah pemukiman warga, yang jaraknya sekitar 500 meter dari Situs Sitinggil.
Tamijo mengatakan, Situs Sitinggil ini berkaitan dengan Sendang Setaman. Sebelum ke Sitinggil, biasannya pengunjung cuci muka atau wudhu terlebih dulu di Sendang Setaman.
Dia menjelaskan, berdasarkan cerita turun-temurun, Sendang Setaman adalah sendang peninggalan Mbok Rondo Wora Wari, yang konon katanya momong Joko Modo atau Patih Gajah Mada semasa kecil.
‘’Ini satu paket dengan Sitinggil tadi. Ini juga banyak dikunjungi tamu-tamu yang ada keinginan untuk hajatnya dikabulkan, termasuk yang saya ceritakan tadi,’’ terangnya.
Terdapat dua tampungan air berbentuk kotak di Sendang Setaman, yang terdapat banyak ikan. Menurut dia, sendang ini dulu sempat digunakan minum dan mandi.
Namun, diakuinya, zaman yang semakin maju, membuat masyarakat sudah memiliki kamar mandi sendiri. Sehingga Sendang Setaman hanya dimanfaatkan sekedarnya.
‘’Setahu saya belum pernah kering sama sekali, walaupun kemarau panjang tidak pernah surut,’’ tukasnya.
Tamijo berharap lokasi bersejarah ini bisa dikenal masyarakat luas, bahwa cikal bakal Patih Gajah Mada ini dulunya ada cerita dari sini. ‘’Harapan kedepan anak cucu bangsa jangan sampai meninggalkan sejarah,’’ ucap Tamijo. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta