Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Dua Monumen Sebagai Pengingat Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI di Wilayah Lamongan

Anjar Dwi Pradipta • Senin, 18 Agustus 2025 | 00:22 WIB
Di sekitar Monumen Kuda Putih Mayangkara di Desa/ Kecamatan Mantup terdapat relief perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. 
Di sekitar Monumen Kuda Putih Mayangkara di Desa/ Kecamatan Mantup terdapat relief perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI. 

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Peringatan hari ulang tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-80 Minggu (17/8), menjadi momen pengingat pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan RI di wilayah Lamongan. 

Ketika melintas di jalan raya Lamongan – Mojokerto, Patung Kuda Putih Mayangkara berdiri megah di Desa/ Kecamatan Mantup. Selain itu terdapat Tugu Peringatan di Desa Gumantuk, Kecamatan Maduran. 

Terdapat empat nama yang diukir di sana, meliputi Kadet Soewoko, Kopral Widodo, Kopral Sukaeri, dan Kopral Lasiban. Jasa Kadet Soewoko juga diabadikan dalam patung yang berdiri di sebelah barat Kodim 0812 Lamongan. 

Sejarawan Lamongan, Mohammad Nafis Abd. Rouf menjelaskan, nama Kadet Soewoko mungkin tidak setenar Bung Tomo, namun keberaniannya melawan pasukan Belanda pada 1949 meninggalkan jejak heroik di Lamongan. 

Sosok kelahiran Desa Lumbangsari, Malang pada Tahun 1928 ini menjadi inspirasi masyarakat. Dia menjelaskan, pada masa Agresi Militer Belanda II pada 4 Maret 1949, Kadet Soewoko bersama pasukannya tiba di Laren, Lamongan. 

Saat mendapat kabar truk Belanda terperosok di dekat Desa Parengan, mereka bergerak untuk menyerang. Dengan senjata terbatas, mereka menyeberangi Bengawan Solo menggunakan perahu.

Mendengar berita tersebut, Kadet Soewoko berserta pasukannya bersiap untuk melakukan serangan. ‘’Sayangnya, mereka yang berjumlah delapan orang harus ditinggal satu. Dan yang ditinggal saat itu adalah Soemarto. Bukan karena apa-apa dia ditinggal, lantaran persediaan senjata saat itu hanya tujuh buah,’’ ucapnya.

Awalnya, pasukan hanya menghadapi tujuh serdadu Belanda. Namun tak lama kemudian, datang tambahan pasukan hingga jumlah musuh mencapai 37 orang. Meski terkepung, Kadet Soewoko tetap memberi aba-aba tembakan salvo. Pertempuran sengit pun tak terhindarkan.

Hingga malam tiba, pasukan semakin terdesak. Soewoko lalu memerintahkan prajuritnya menerobos kepungan menuju Desa Gumantuk. Dua berhasil lolos, satu berpura-pura mati, sedangkan Soewoko gugur setelah kedua lengannya tertembak dan tubuhnya ditusuk sangkur. 

‘’Saya tidak mau menyerah. Bunuh saya,” demikian kata-kata terakhirnya yang masih dikenang sebagai saksi hidup. Selain Soewoko, tiga pejuang lain yang turut gugur adalah Soekaeri, Widodo, dan Lasiban. 

‘’Sebagai penghormatan, masyarakat mendirikan tugu peringatan di Desa Gumantuk dan patung Kadet Soewoko di pintu masuk Lamongan dari arah Surabaya,’’ ujarnya. 

Kabid Pemasaran Disparbud Lamongan, Sahlul Muarikh menjelaskan, Mayangkara awalnya merupakan nama kuda putih pemberian Kepala Desa (Kades) Mantup kepada Mayor Djarot Subiyantoro saat Batalyon Djarot bermarkas di Mantup pada Tahun 5 Mei 1946.

‘’Batalyon tersebut kemudian dikenal dengan julukan Batalyon 503 Mayangkara, mengambil nama dari kuda legendaris itu, sekaligus menjadikannya simbol semangat perjuangan,’’ ujarnya.

Batalyon Mayangkara dipimpin oleh Mayor Djarot Soebyantoro melakukan perlawanan gerilya terhadap Agresi Militer Belanda II, khususnya di wilayah Lamongan, sejak masa pasca-proklamasi hingga 1948 - 1949.

‘’Monumen Kuda Putih Mayangkara dibangun secara resmi pada 9 Desember 1970 dan menjadi landmark penting di halaman Gedung Mayangkara,’’ tuturnya.

Terdapat relief cerita perjuangan, nama-nama kesatuan yang pernah terlibat, dan pesan moral dari Panglima Besar Jenderal Soedirman terukir di sekeliling monumen sebagai warisan sejarah

‘’Setiap tahun diadakan gerak jalan napak tilas Mayangkara, rute dimulai dari Gedung Mayangkara dan berakhir di Pendopo Lokatantra, sebagai penghormatan simbolis terhadap langkah-langkah para pejuang dulu,’’ ucapnya.

Sementara itu, Pemerhati Sejarah dan Budaya Lamongan, Supriyo membenarkan ada dua monumen sebagai simbol perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Lamongan, yakni Tugu Peringatan Kadet Soewoko dan Monumen Mayangkara.

‘’Sebagai bagian dari gerak langkah sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan NKRI, Monumen Kadet Soewoko dan Monumen Mayangkara perlu mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Perlu adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat menanamkan nilai-nilai juang dan budaya yang merefleksikan semangat bela negara,’’ ujarnya. (sip/ind)

Editor : Anjar D. Pradipta
#Agresi Militer Belanda #Kadet Soewoko #lamongan #mayangkara #kemerdekaan