LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Terjebak kemacetan selalu menjadi keluhan utama bagi para pengguna mobil berbahan bakar bensin atau solar.
Selain waktu dan tenaga terbuang percuma, konsumsi bahan bakar kerap melonjak drastis.
Hal ini terjadi karena mesin pembakaran internal tetap bekerja dan mengkonsumsi bahan bakar meskipun kendaraan dalam kondisi diam atau bergerak pelan.
Baca Juga: Keunikan Ayam Ekor Lidi Menarik Perhatian Pecinta Ayam Hias di Lamongan
Berbanding lain dengan mobil listrik. Kondisi tersebut tidak akan kalian temui saat berhenti di tengah kemacetan.
Konsumsi daya yang dikeluarkan oleh kendaraan berbasis baterai ini justru dinilai beberapa sumber lebih minim.
Namun, pantauan terhadap perilaku kendaraan listrik menunjukkan kebalikannya saat mobil melaju di jalan tol.
Pada kecepatan tinggi, energi yang dibutuhkan justru lebih besar dibandingkan saat melalui jalanan perkotaan yang cenderung padat. Efisiensi mobil listrik memang menonjol pada kecepatan rendah hingga sedang.
Dalam kondisi lalu lintas stop-and-go, fitur pengereman regeneratif atau regenerative braking bekerja optimal.
Sistem ini memanfaatkan momen perlambatan untuk mengubah energi kinetik menjadi listrik, yang kemudian dikembalikan sedikit demi sedikit ke dalam baterai.
Tapi, ketika kasus mobil listrik memasuki jalan tol pengendara cenderung menginjak pedal gas dalam waktu lama dengan kecepatan tinggi dan stabil.
Dalam kondisi ini, kesempatan untuk melakukan pengereman sangat minim, sehingga fitur regeneratif nyaris tidak berperan.
Aliran energi berjalan satu arah, dari baterai ke motor, tanpa ada pemulihan sama sekali.
Menurut beberapa sumber, faktor fisika yang terjadi turut menekan efisiensi baterai ketika berada di jalan tol.
Hambatan aerodinamika atau gaya gesek udara melonjak signifikan seiring peningkatan kecepatan kendaraan.
Mobil listrik juga memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan mobil bensin seukurannya, lantaran membawa baterai berkapasitas besar.
Kombinasi antara bobot kendaraan yang berat dan hambatan angin yang besar memaksa motor penggerak memeras daya lebih keras untuk mempertahankan kecepatan.
Beban tersebut diprediksi akan semakin berat jika pemilik berkendara dengan kapasitas penumpang penuh atau membawa barang bawaan banyak.
Penggunaan sistem pendingin udara atay AC pada suhu ekstrem, baik terlalu panas maupun terlalu dingin, juga turut menambah beban kerja pada baterai.
Berdasarkan pola tersebut, dapat disimpulkan bahwa mobil listrik memang menghabiskan lebih banyak energi saat digunakan di jalan tol ketimbang di jalanan perkotaan.
Meski demikian, penyebutan kata boros pada mobil listrik perlu dipahami secara relatif.
Sebesar apa pun konsumsi dayanya saat kecepatan tinggi, biaya pengisian listrik yang dikeluarkan menurut pantauan cenderung lebih rendah dibandingkan biaya pembelian bensin atau solar untuk jarak tempuh yang sama. (mgg/ind)
Editor : Indra Gunawan