Radarlamongan.co - Sepekan terakhir kegiatan edit foto menggunakan aplikasi ChatGPT ramai digunakan oleh banyak kalangan. Style ghibli mendongkrak penggunaan aplikasi ini untuk mengubah foto menjadi gambar menyerupai animasi karya Studio Ghibli.
Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, pengguna media sosial seperti tiktok dan instagram (IG) sedang ramai memperbincangkan hasil gambar ChatGPT yang tak sesuai dengan foto aslinya. Semisal, dalam proses ChatGPT itu tiba-tiba muncul sosok tambahan yang tidak terdapat dalam foto asli.
Kadang masih banyak kalangan terutama masyarakat Indonesia yang masih kental mengenal hal-hal mistis menganggap hasil gambar tersebut sebagai penampakan mahluk halus.
Namun, secara teknis tambahan gambar dalam proses tersebut tidak bisa langsung dikatakan sebagai penampakan dari mahluk halus, begini alasanya logisnya:
AI Menebak Konteks Gambar Secara Kreatif.
- Misalnya, kamu pasang foto berdua orang di taman. Secara teknis Artificial Intelligence (AI) mungkin berpikir “Oh, ini suasana hangat dan ramai ala Ghibli, biasanya ada anak-anak main atau karakter lain di sekitar.” Secara otomatis program AI akan menambahkan figur untuk melengkapi cerita agar terkesan lebih realistis.
AI Belajar dari Ribuan Gambar Referensi, Terutama dari Beberapa Adegan di Film Produksi Studio Ghibli.
- Banyak scene dari film-filim produksi Studio Ghibli yang berisi keramaian, makhluk roh, atau karakter tambahan. Program AI bisa saja menyisipkan itu karena dianggap cocok dengan suasana.
Ilusi Visual atau Bentuk Abstrak yang Menyerupai Sosok.
- Terkadang AI menangkap bayangan, pohon, atau benda yang sekilas mirip wajah atau tubuh manusia, jadi kesannya seperti ada tambahan makhluk.
Apabila kamu masih percaya bahwa AI bisa menangkap sesuatu dari dimensi lain karena dia bekerja dengan jaringan non linear dan memproses jutaan gambar. Ya mungkin, itu masuk wilayah interpretasi mistis atau metafisika digital.
Mungkin ini juga menjadi salah satu alasan tren Ghibli AI jadi viral karena hasilnya sering terasa lebih hidup, puitis, dan kadang menyeramkan dengan cara yang indah. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta