LAMONGAN, Radarlamongan.co - Motor dua tak sudah tak diproduksi lagi di dalam negeri, karena standar emisi yang diterapkan oleh pemerintah. Meski lebih boros BBM dan harganya cukup tinggi, tapi motor klasik tersebut masih memiliki banyak penggemar.
Abdul Karim salah satunya, yang rela merogoh kocek hingga puluhan juta untuk modifikasi dan restorasi ulang motor klasik kesayangannya.
Terlihat dua motor sport yakni Honda NSR New RR dan Kawasaki Ninja SS berjajar rapi di teras rumahnya di Kelurahan Jetis, Kecamatan Lamongan. Honda NSR tersebut didapatkannya dari Thailand melalui agen.
Motor sport klasik era akhir Tahun 1990 tersebut tak asing bagi para penggemar otomatif. Bahkan motor sport klasik ini pernah diklaim sebagai salah satu motor fairing terbaik dan diminati di-era kejayaan mesin dua tak.
Keluarga NSR series yang pernah dipasarkan Honda di Indonesia, mulai NSR-150R, NSR-150RR, NSR-150 New RR hingga NSR-150SP.
Sobat otomatif pasti tahu, motor Honda NSR di eranya Sudah canggih, dengan dibekali beragam peranti yang cukup canggih, seperti single arm alias lengan ayun tunggal dan pembenahan crankshaft untuk meredam getaran mesin.
Sehingga dengan spesifikasi ini, NSR banyak diburu para kolektor yang siap merogoh kocek yang lumayan dalam.
‘’Untuk NSR bukan modif tapi lebih ke restorasi. Datang dari Thailand kusam dan pecah, kemudian kita restorasi ulang, kita punya channel agen, kita datangkan onderdil dari Thailand,’’ ujarnya.
Selain hobi, dia juga berbisnis motor klasik. Karim sudah pernah menjual motor Honda NSR SP CC150 yang telah dimodifikasi.
Awalnya, dia membeli motor tersebut hanya Rp 16 juta, yang laku terjual seharga Rp 40 juta. Selain itu, motor NSR lainnya yang dibeli Rp 11 juta, setelah direstorasi laku Rp 27 juta.
Sedangkan, motor NSR di garasinya saat ini sudah sempat ditawar Rp 55 juta. Namun, dia masih enggan melepasnya.
‘’Tapi belum diberikan, karena sayang mesin bagus dan sudah direstorasi,’’ tuturnya.
Karim mengaku mendapatkan untung dari membeli dan merestorasi motor. Dia mengakui, bagi pecinta motor klasik pemula, harus menyiapkan biaya restorasi berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 15 juta.
‘’Kita restorasi habis puluhan juta,’’ ucapnya.
Dalam merestorasi motor, Karim mengembalikan ke bentuk aslinya. Selain mengecat ulang, beberapa spare part juga diperbarui.
Waktu restorasi rerata memakan waktu sekitar satu bulan hingga tiga bulan. Selama ini, Karim mengaku tidak kesulitan mencari onderdil motor klasik. Dia memiliki bengkel langganan dalam merestorasi motor yang sesuai keinginnya.
‘’ Untuk peminat yang di Lamongan masih sedikit, barang langka dan harga di atas rata-rata, jadi pehobi khusus,’’ imbuhnya.
Sedangkan, untuk Ninja SS dua tak super kips dipersiapkan untuk kontes pada Tanggal 22 Februari - 23 Februari 2025.
Saat ini Karim mempersiapkan, mulai detail, kombinasi warna kontras yang sesuai, dan kerapian.
‘’Karena paling tidak persiapan satu minggu sampai dua minggu,’’ pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta