Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Kabid di Dinas PMD Lamongan Ini Pecinta Vespa, Gara - gara Satu Koleksi Pernah Dijual tak Laku, Putuskan Tak Akan Jual Lagi

Arya Nata Kesuma • Minggu, 15 September 2024 | 03:20 WIB
KENDARAI VESPA SEJAK MASIH MUDA: Rahadi Puguh Raharjo dan empat vespa yang dimilikinya. Vespa-vespa itu memiliki kenangan masing – masing. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
KENDARAI VESPA SEJAK MASIH MUDA: Rahadi Puguh Raharjo dan empat vespa yang dimilikinya. Vespa-vespa itu memiliki kenangan masing – masing. (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)

radarlamongan.jawapos.com, Lamongan - Selepas salat Jumat, ruangan belakang di sebelah kantin dinas PMD itu sepi.

Pintu ruangan terkunci.

Rahadi Puguh Raharjo, salah satu kabid di Dinas PMD Lamongan, membawa kunci dan membuka ruangan tersebut.

Di ruangan itu, empat motor vespa diparkir.

Motor – motor itu bagi Puguh memiliki cerita masing-masing.

Vespa warna biru langit misalnya.

Motor yang terlihat ada karatan di sejumlah bagian depan itu menjadi kendaraan pertamanya semasa muda.

Vespa sprint itu dibeli seharga Rp 4,5 juta dari Sumatera.

Puguh masih mengingat pembelian kendaraan tersebut dilakukan pada 1999.

Dia mengumpulkan uang dari pekerjaan sampingan sebagai jasa servis elektronik dan honor yang didapatkan berkaitan pemilu.

Motor tersebut masih menemaninya hingga sekarang.

“Motor ini pernah akan dijual karena butuh uang tapi tidak laku. Sampai akhirnya diputuskan untuk tidak dijual sampai kapan pun karena banyak kenangan,” terang PNS yang sekarang menetap di Kecamatan Paciran itu.

Pada 1999 sampai 2004, Puguh berhasil membeli lima vespa.

Namun desakan kebutuhan, empat vespa dijual.

Tersisa vespa jenis sprint yang dibeli kali pertama.

Karena suka dengan Vespa, maka Puguh membeli lagi kendaraan roda dua itu pada 2015.

Apalagi, anaknya juga senang dibonceng naik vespa.

Hingga sekarang, dia memliki empat vespa dengan berbagai jenis.

Selain sprint, ada vespa yang bodi samping kiri dan kanan berbentuk seperti telur, dan grand lusso.

Puguh membeli vespa – vespa itu dengan harga murah, Rp 4,5 juta – Rp 5 juta per unit.

Agar terlihat lebih bernilai, vespa itu ada yang dipermak.

Restorasi bodi dilakukan dengan cara dilas, cat, dan penggantian onderdil lainnya.

Dia membeli bahan – bahan untuk modifikasi kendaraan itu dari lokal maupun impor yang harganya lebih mahal.

Pembelian secara impor dilakukan apabila tipe yang dibutuhkan tidak ada di Indonesia atau secara bentuk kurang pas.

Misalnya lampu. Harga lampu lokal Rp 150 ribu, sementara impor sekitar Rp 1,25 juta.

Puguh biasanya memilih barang impor dari Taiwan dan Thailand.

Kini, vespa milik Puguh ada yang memiliki nilai jual tinggi, Rp 30 juta ke atas.

Dia mengaku bukan kolektor. Alasannya, hanya memiliki empat vespa.

Baginya, seseorang itu disebut kolektor apabila koleksinya mencapai puluhan unit.

Selain itu, vespa dijadikan Puguh sebagai alat transportasi harian dari Paciran ke Lamongan, pergi pulang.

Berkendara vespa  justru memberikan kenikmatan tersendiri.

Puguh lebih suka vespa jenis klasik. Anaknya juga dikenalkan jenis tersebut.

“Klasik ini semakin lama harganya terus tinggi karena banyak diburu. Artis juga sekarang banyak pakai, jadi harga terangkat,” ujarnya.

Sementara vespa grand lusso kini dimodifikasi seperti motor Jepang pada umumnya sekarang.

Vespa itu menggunakan dobel starter dan remot, tidak perlu pancat.

Hal itu dilakukan atas permintaan sang istri yang ingin naik vespa dengan dobel starter.

“Alhamdulillah bisa dimodifikasi dan mungkin ini yang pertama jenis klasik kalau di Lamongan,” tuturnya.

Menurut Puguh, seorang pecinta vespa minimal punya basic bengkel.

Alasannya, setiap touring harus bawa ban dan perlengkapan bengkel sendiri.

“Nikmatnya pecinta vespa dari situ. Jadi itu menyenangkan karena tidak mungkin perjalanan vespa klasik itu mulus,” tuturnya. (rka/yan)

Editor : Arya Nata Kesuma
#motor #paciran #otomotif #vespa #klasik #sprint