Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Mengapa Doa di Pesarean Gunung Kawi Dipercaya Cepat Dikabulkan? Ini Kisah Karomah Eyang Djoego

Redaksi • Jumat, 22 Mei 2026 | 17:00 WIB
KENANG PERJUANGAN: Masyarakat di sekitar Pesarean Gunung Kawi berdoa di Pendapa Gunung Kawi dalam rangka haul Eyang Djeogo, Mei 2024 lalu (Indah Mei Yunita / Radar Malang).
KENANG PERJUANGAN: Masyarakat di sekitar Pesarean Gunung Kawi berdoa di Pendapa Gunung Kawi dalam rangka haul Eyang Djeogo, Mei 2024 lalu (Indah Mei Yunita / Radar Malang).

 radarlamongan.co – jawaposradarlamongan – Ada dua makam di kompleks pesarean Gunung Kawi. Yakni makam Eyang Djoego atau Kyai Zakaria II dan makam Raden Mas Imam Soedjono, yang merupakan murid kesayangan atau kinasih-nya Eyang Djoego.

Perlu menaiki puluhan anak tangga untuk sampai ke pendapa di Pesarean Gunung Kawi. Pesarean tersebut saat ini dikelola Yayasan Ngesti Gondo. Meskipun telah tiada, mayoritas masyarakat percaya, karomah atau kemuliaan Eyang Djoego masih ada. Sebagian pengunjung pesarean juga percaya bahwa berdoa di area pesareannya dipercaya lebih cepat dikabulkan. Baca Juga: Misteri Gunung Kawi: Di Balik Harmoni Budaya dan Pesona "Putri Tidur", Ada Magnet Berburu Pesugihan

Eyang Djoego merupakan cicit dari Sri Susuhunan Paku Buwana I yang memerintah Kerajaan Mataram Islam antara 1704 sampai 1719. Ayahnya seorang ulama besar di lingkungan Keraton Kartasura pada masa itu. Semasa mudanya, Eyang Djoego sudah menunjukkan minat yang besar untuk mempelajari agama Islam. Hingga akhirnya menjadi bagian dari Laskar Pangeran Diponegoro.

”Eyang Djoego itu salah satu laskar prajurit Pangeran Diponegoro. Kemudian menutup identitasnya dan pergi ke arah timur (Blitar) untuk menyiarkan agama Islam,” jelas Humas Yayasan Ngesti Gondo Sri Setyowati seperti diberitakan Radar Malang waktu itu.

Konon, Eyang Djoego memiliki beberapa kelebihan.

Seperti mampu menyembuhkan orang sakit melalui doa - doanya.

Suatu hari, ada seseorang dari etnis Tionghoa yang sakit dan sudah berobat ke banyak tempat.

Namun, penyakitnya tidak kunjung sembuh.

Hingga akhirnya dia mencoba datang ke Eyang Djoego.

”Setelah diberi air dari gucinya, kemudian didoakan oleh Eyang Djoego, orang tersebut sembuh,” cerita Sri. Baca Juga: Viral Usai Konten Pesulap Merah, Ini Sejarah Asli Pesarean di Balik Mitos Pesugihan Gunung Kawi

Kelebihan itu yang membuat Eyang Djoego kerap didatangi orang untuk berobat sekaligus mempelajari nilai - nilai keislaman.

Mendekati hari wafatnya, Eyang Djoego berpesan kepada Raden Mas Imam Soedjono yang merupakan murid kinasih sekaligus anak angkatnya untuk dimakamkan di lereng Gunung Kawi.

”Imam Soedjono bersama pasukannya berangkat ke sini (pesarean Gunung Kawi) dan melihatlihat lokasi. Akhirnya dilaporkan ke Eyang Djoego dan beliau setuju,” imbuhnya.

Selang beberapa bulan kemudian, Eyang Djoego wafat di padepokannya di Desa Jugo, Kecamatan Sanan, Kabupaten Blitar. Tepatnya, 22 Januari 1871 pukul 01.30.

Murid - muridnya berjalan kaki membawa jenazahnya ke lereng Gunung Kawi dengan perjalanan selama dua hari.

Pada Rabu, 24 Januari 1871, rombongan tiba di lokasi.

Keesokan harinya, prosesi pemakaman dipimpin Imam Soedjono.

Pada tahun yang sama, Pesarean Gunung Kawi pun dibuka untuk umum.

Tanpa batasan status sosial, etnis, agama, maupun budaya.

Imam Soedjono menjadi penjaga sekaligus juru kunci pertama makam Eyang Djoego.

Semasa tinggal di lingkungan Pesarean Gunung Kawi, dia membantu masyarakat untuk berkebun maupun bertani. 

‘’Beliau (Imam Soedjono) di sini juga aktif dalam kegiatan keagamaan, seperti membangun masjid,” ucapnya.

Masjid itu terletak di sisi Pendapa Pesarean Gunung Kawi.

Ukuran bangunannya sekitar 80 meter persegi dan pada masa itu masih terbangun dari kayu.

Seperti masjid pada umumnya, masjid itu difungsikan Imam Soedjono untuk salat bersama murid - muridnya.

Solikin, salah satu warga Desa Wonosari menyebut, berdasar cerita yang didengar, pada masa itu belum banyak penduduk di lereng Gunung Kawi.

Sehingga, yang saat itu bermukim kemungkinan hanya Imam Soedjono dan murid - muridnya.

”Mungkin sekitar 1900-an, penduduk mulai berdatangan di sini,” kata Solikin yang menjabat sebagai Kasi Pelayanan Desa Wonosari.

Pada masa itu, penganut agama Islam sudah ada di sana.

Islam mulai berkembang pesat di Desa Wonosari pasca Gerakan 30 September PKI, sekitar tahun 1967.

Masjid yang didirikan Imam Soedjono menjadi satu-satunya yang digunakan masyarakat untuk beribadah.

Sebelum akhirnya, ketika pemeluk agama Islam semakin banyak, muncul masjid-masjid lainnya.

Termasuk Masjid Agung Raden Imam Soedjono yang berdiri pada 1982. (*)

Editor : Arya Nata Kesuma
#pesarean gunung kawi #Makam Eyang Djoego #keraton kartasura #Laskar Pangeran Diponegoro #blitar