Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Dea Angelia Kamil, Wisudawan Doktoral Termuda UGM Asal Kecamatan Sugio, Kuliah Bersama Suami, Meniti Mimpi ke Tanah Britania

Rika Ratmawati • Sabtu, 7 Maret 2026 | 17:05 WIB

 

TEMPUH PENDIDIKAN LAGI DI INGGRIS: Dr Dea Angelia Kamil, S.Si menjadi lulusan program pascasarjana dengan IPK 4.0 di UGM, 21 Januari lalu. (IST/RDR.LMG)
TEMPUH PENDIDIKAN LAGI DI INGGRIS: Dr Dea Angelia Kamil, S.Si menjadi lulusan program pascasarjana dengan IPK 4.0 di UGM, 21 Januari lalu. (IST/RDR.LMG)

radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Riuh tepuk tangan itu bukan sekadar seremoni. Di balik gema yang memantul di dinding ballroom Universitas Gadjah Mada (UGM) hari itu, ada sebuah narasi tentang waktu yang ditekuk oleh kemauan.

Seorang ibu muda melangkah anggun, mengenakan toga yang seolah membungkus seluruh keletihan masa silamnya menjadi kebanggaan dia dan keluarganya.

Dr Dea Angelia Kamil, S.Si bukan sekadar lulusan dari UGM. Ibu muda berusia 26 tahun ini adalah anomali yang manis; wisudawan doktoral termuda dari Fakultas Ilmu Komputer pada periode II tahun 2025/2026.

Warga asli Lamongan ini berhasil menyelesaikan program pascasarjana (S2 dan S3) periode II Tahun 2025/2026. Namanya terpatri dengan catatan emas: IPK sempurna 4.0 dengan predikat cumlaude.

Bagi Dea, hidup tampaknya memang bukan tentang menunggu, melainkan menjemput. Garis nasibnya sejak remaja sudah akrab dengan kata ‘’akselerasi’’.

Bermula dari bangku MA Unggulan Amanatul Ummah Surabaya. Dia kemudian mengambil kuliah S-1 jurusan Matematika di Unair Surabaya.

Dea lalu melompat ke dalam kawah candradimuka beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), yang menyediakan program percepatan S2 hanya setahun, dilanjutkan S3.

Ilmu komputer menjadi pilihannya, sebuah ikhtiar untuk menjinakkan masa depan lewat logika mesin dan algoritma.

Gelar doktor sudah di tangan, namun dahaganya menimba ilmu pengetahuan belum tuntas.

Dea tengah mengemas koper. Bukan sekadar baju, tapi juga harapan besar untuk menempuh program postdoctoral di Inggris (UK).

Dia tak berangkat sendiri. Suami dan buah hatinya akan ikut diboyong, menyeberangi samudera menuju tanah Britania untuk menemani masa belajarnya di sana.

“Rencana nanti keluarga akan diboyong ke sana (suami dan anak), untuk menemani belajar di UK,” terang istri dari Dr Mohammad Amir Jamaluddin, S.Si itu.

Namun, prestasi Dea bukan tumbuh di ruang hampa yang sunyi. Di balik tumpukan risetnya, ada suara tangis bayi usia setahun yang menuntut dekapannya.

Dea adalah seorang ibu. Perjalanan meraih gelar doktor ini juga sebuah duet ketabahan dan perjuangan bersama suaminya. Pasangan ini bagaikan dua pelari maraton yang menempuh jalur S-3 secara bersamaan di Jogjakarta.

Dea beruntung memiliki suami yang sangat mendukung langkahnya. “Kami berbagi peran dan alhamdulillah terlalui dengan baik,” tutur perempuan asal Deketagung, Kecamatan Sugio itu.

Dea ingin kontribusi teknologinya kelak bisa memajukan Indonesia melalui bidang penelitiannya, yakni intelligent transportation system. Kepada generasi muda, dia menitipkan sebuah pesan yang puitis sekaligus pragmatis: Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Manfaatkan peluang selagi masih ada.

Dari Sugio, Dea telah terbang tinggi. Dan Inggris hanyalah pemberhentian berikutnya sebelum dia kembali untuk membumikan ilmu bagi negeri. (rka/yan)

Editor : Arya Nata Kesuma
#Universitas Gajah Mada (UGM) #PMDSU #fakultas ilmu komputer #lamongan #Doktoral Termuda #Kecamatan Sugio