radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Limbah sisik ikan nila yang biasanya berakhir di tempat sampah, di tangan enam pelajar SMAN 2 Lamongan, justru menjelma menjadi butiran emas prestasi. Sebuah inovasi lingkungan yang mampu bersaing di ajang Jakarta National Science Fair (JNSF).
M. Gustav Revan Abyantara, Wahyu Saktiawan, Bleego Gian Key Samurai Nuryadin, Yoviola Kalysa Arthaputri, Lucya Aqeela Zania, dan Feby Marwani Lambaya Pongdatu membuktikan bahwa status mereka yang baru duduk di bangku kelas 10 SMAN 2 Lamongan bukan penghalang untuk bicara banyak di level nasional.Baca Juga: Ratu Mesia, Siswi SMAN 2 Lamongan yang Jadi Delegasi ke Konferensi 17 Program PBB dan Duta Kamtibmas 2025
Bahkan, mereka mampu bersanding dengan kontestan internasional sebagai lima tim favorit di ajang JNSF, 14 – 17 April lalu.
Gagasan yang menghasilkan penghargaan spesial dari Indonesian Young Scientist Association itu lahir dari realitas tanah kelahiran mereka. Lamongan, yang dikenal sebagai salah satu lumbung ikan terbesar, menyediakan bahan baku yang melimpah ruah. Mereka tak ingin potensi itu menguap begitu saja. Ekstrak sisik ikan nila kemudian diformulasikan dengan gliserol berbasis sayuran untuk menciptakan bioplastik. Mereka menambahkan bunga telang sebagai detektor alami; jika produk di dalamnya basi, maka warna kemasan akan memberi tanda.
Target bioplastik ini untuk kemasan yang bisa larut di air panas seperti kopi, teh, dan bumbu mi instan. Jika kopi sachet atau bungkus mi instan langsung dituangi air panas, maka palstiknya bisa larut. Mereka mengklaim tidak ada efek samping karena sisik ikan nilanya sudah diambil ekstraknya saja, sedangkan gliserol yang digunakan dari sayur. Sehingga, bisa mengurangi limbah plastik tersebut. Baca Juga: Setelah Raih Juara LKTI di Banyuwangi, Tiga Siswa SMAN 2 Lamongan Termotivasi untuk Kembangkan ke Penelitian
Lucya mengatakan, penelitian tersebut memerlukan waktu tiga minggu. Ada trial and error selama proses pembuatan produk bioplastik. Kelompok ini memilih mengikuti lomba secara daring dengan berbagai pertimbangan. "Tapi beruntung (kendala) bisa kita tangani, dan pastinya dapat pendampingan dari pembimbing," terangnya.
Pembagian tugas menjadi sangat penting. Mulai dari mengekstrak sisik, mencampur bahan, dan mencetak lembaran menggunakan loyang. Selanjutnya, produk dipotong kecil dan dilipat sebelum dipress agar menjadi kemasan sachet. Kerja kolektif inilah yang menjadi kunci. Baca Juga: SMAN 2 Lamongan Usung Spirit Majapahit di Lamongan Night Carnival 2025
Oktober mendatang, Lucya dkk bawa penelitian ini kembali ke meja kompetisi lain. Salah satu misinya: menebar inspirasi agar riset - riset berbasis kearifan lokal terus tumbuh dari tangan anak muda Lamongan. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma