radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Dua laki - laki serius mengotak - atik perangkat robot di tangannya.
Sesekali keduanya mencoba mengontrol robot buatannya itu.
Hari itu, Hanif, pembina ekstra robotik SMPN 1 Lamongan, mendampingi anak didiknya yang bersiap mengikuti kejuaraan setelah lebaran di Surabaya.
Dia melatih satu minggu sekali.
Ada tiga siswa yang direncanakan berlomba.
Namun, baru satu siswa yang datang saat itu.
Bagi Hanif, mendampingi pelatihan robotik di level SMP dan SMA tingkat kesulitannya hampir sama.
Bedanya, perbandingan materi dan praktik seimbang, 50:50 bagi SMP.
Sedangkan SMA lebih banyak praktik.
Jenis robot jenjang SMP biasanya mengikuti arah jalan dan arduino.
Jika SMA, maka lebih rumit lagi.
Misalnya transporter dan sumo.
Dalam menyusun sebuah robot, hampir semua perangkatnya sudah tersedia.
Tinggal disesuaikan dengan keinginan.
Pengerjaan bakal lebih mudah bila memiliki mikrokontroler untuk mengontrol komponen lain dari coding yang diunggah.
Robot akan bekerja berdasarkan penangkapan dari sensor yang dikendalikan dari mikrokontroler tadi melalui infrared.
Hanif menuturkan, proses yang membutuhkan waktu hanya perakitan.
Harus mencocokkan antara perangkat robot dengan codingnya.
“Kalau sudah jadi tinggal jalan, lebih mudah untuk pengembangannya,” terangnya.
Hadirnya modul juga membuat proses pembuatan robot sekarang lebih mudah.
Apalagi, sudah ada program khusus.
Mereka akan bekerja sesuai program.
Hanif mencontohkan robot jenis mengikuti arah jalan.
Robot akan bekerja mengikuti arah jalan.
Komponen yang penting dalam merakit robot antara lain sensor, actuator, power, dan mikrokontroler.
“Kita sudah tiga kali lebih ikut even robotik di Surabaya,” ujarnya.
Muhammad Azka Alfaiqi, salah satu pelajar yang ikut ekstra robotik, mengaku senang bisa belajar robotik.
Dia beberapa kali mengikuti even yang rata-rata pesaingnya dari tingkat SMA.
Selama proses perakitan, dia bisa bertukar ide dan gagasan dengan rekan satu tim.
“Kita ikut Baronas ITS dan beberapa even lain. Minimal kita bisa menambah pengetahuan dan pengalaman. Sekarang kita persiapan untuk even lagi setelah lebaran,” tuturnya.
Edi Santoso, guru informatika, menuturkan, ekstra robotik sempat vakum karena pembelajaran TIK dihapus.
Sekarang, ada pembelajaran informatika lagi.
Bahkan, dalam kurikulumnya ada materi pemrograman basic.
''Sehingga anak-anak jadi lebih bersemangat lagi untuk mengikuti ekstra robotik. Tapi karena banyaknya ekstra di sekolah, sehingga anak kesulitan membagi waktunya,'' ujarnya.
Namun, untuk robotik masih rutin mengirimkan tim mengikuti even robotik.
“Kita rutin mengikuti even untuk menambah pengalaman siswa,” tuturnya. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma