radarlamongan.co - jawaposradarlamongan — Di pesisir utara Lamongan, di sudut Kelurahan/Kecamatan Brondong, ikan tuna bukan sekadar komoditas yang mendarat di pelelangan.
Melainkan, sebuah simfoni rasa yang kemudian dikenal sebagai Oseng Tuna Asap Jeng Intan (Otaji).
Tangan Intan Cahyandari yang menjadikan ikan dari pantura Lamongan ini semakin bernilai jual.
Lahir dari meja arisan komunitas, racikan Intan mulanya hanyalah buah tangan sederhana untuk kawan sejawat.
"Awal mula saya membikin olahan ikan dari ikan tuna waktu acara arisan teman-teman komunitas, kemudian banyak yang suka dan mulai ada yang order," ucapnya.
Lidah tidak bisa berdusta. Pesanan yang awalnya hanya hitungan jari, pelan-pelan merangkak naik menjadi puluhan, hingga ratusan toples yang menjelajah lintas kota.
Keuletan itu pun membuahkan pengakuan; sebuah trofi Halal Award 2023 kategori The Promising Halal SME.
Namun, di balik perkembangan usahanya saat ini, terselip kisah tentang perih. Intan mengenang sebuah fragmen kelam saat api dapur tiba-tiba mengamuk akibat kebocoran tabung gas. Mahkota rambutnya terbakar, tangan dan kakinya harus menanggung luka bakar.
Untuk sebuah kesuksesan, sepertinya ada harga yang harus dibayar. Dan, luka itu adalah rajah perjuangan yang dikenangnya dengan senyuman ketabahan.
"Di mana - mana kan pasti ada cerita di balik semuanya ini. Suatu proses kita untuk bisa sukses, kan pasti ada ceritanya," tuturnya.
Di dapurnya, tugas terbagi dalam harmoni yang rapi; bagian pengasapan, penggorengan, penyuwiran, hingga pengemasan akhir.
"Semua sudah ada bagian bagainnya sendiri. Biar tidak rancu," imbuhnya.
Ikan tuna dipilih bukan tanpa alasan. Yakni, kandungan omega yang tinggi serta tekstur daging yang kukuh namun lembut saat dikunyah. Varian olahannya, rica-rica tuna hingga kare tuna asap
Tak puas di satu titik, dia juga melirik ikan peda menjadi oseng peda lombok ijo yang tak kalah memikat. Menurut Intan, ide membuat oseng peda lombok ijo muncul dari usaha suaminya. Ikan tersebut berasal dari ikan kembung yang diasinkan dan dijemur.
"Akhirnya gimana caranya untuk menambah varian saya, akhirnya saya olah, saya suwir saya olah untuk oseng peda lombok ijo, dengan bumbu saya sendiri semuanya," ceritanya.
Melalui proses filet, pencucian, pengasapan, hingga pengemasan yang apik, produk ikan tuna ini mampu bertahan hingga satu tahun selama segel belum terkoyak. “Kalau masih tersegel bisa tahan sampai setahun. Banyak juga yang bawa sebagai oleh-oleh ke luar negeri,” ujarnya.
Saat momen tertentu, seperti menjelang Ramadan, lebaran, serta akhir tahun, kenaikan permintaan bisa mencapai 30 - 40 persen.
"Inikan lebih dibuat sahur, dibawa haji umrah cocok, terus musim haji. Kalau pergi ke luar negeri juga dibawa. Kemudian waktu kita mudik, bisa bawa oleh-oleh ini," ucapnya.
Otaji pun terbang melintasi benua; singgah di koper-koper menuju Arab Saudi, Australia, Rusia, hingga Amerika. "Alhamdulillah kita lolos pemeriksaan kalau ke luar negeri, ditaruh koper ya harus bagasi, bukan cabin, bisa disimpan bagasi," tuturnya.
"Harapannya usaha ini terus maju, bisa menambah varian baru,” imbuhnya. (sip/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma