radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Jarak antara Kecamatan Ngimbang dan hamparan tambak di Lamongan wilayah utara adalah puluhan kilometer aspal.
Namun, bagi Anivea Fachmi Nur Fitri, asal Dusun Ketapas, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, jarak hanyalah angka dalam peta, bukan sekat bagi kreativitas.
Sejak 2025, perempuan berusia 24 tahun itu bersama temannya, nekat menceburkan diri dalam hiruk-pikuk bisnis olahan perikanan.
Bukan dagingnya yang disasar, melainkan kulit ikan. Bagian yang kerap terabaikan, kini naik kelas menjadi camilan premium.
Ide usahanya itu bermula dari sekelumit rasa penasaran seorang sahabat.
Sebuah produk keripik kulit salmon asal Singapura menjadi pemantiknya. Namun, Anivea tak ingin sekadar mengekor tren global.
Dia menoleh ke tanah kelahirannya, tempat di mana bandeng melimpah ruah sebagai napas ekonomi Lamongan.
Bahkan, Lamongan menjadi salah satu produsen ikan terbesar di Jawa Timur.
Selain bandeng, Anivea juga melihat ikan laut seperti kakap mudah ditemukan di wilayah pantura Lamongan. Kearifan local ini pun ingin diangkat melalui keripik kulitnya.
Proses pembuatan dimulai dari pembersihan kulit ikan. Harus dipastikan tidak terdapat daging sedikitpun. Agar tidak amis, kulit ikan itu dibumbui. Proses marinasi ini memerlukan waktu satu hari.
Setelah itu, barulah kulit ikan diselimuti tepung rahasia ala Finz, lalu dicemplungkan ke dalam minyak goreng panas hingga renyah.
Tahap selanjutnya, minyak harus benar-benar ditiriskan agar tidak mudah berbau tengik. Berikutnya, tinggal packing menggunakan pouch.
“Kita pastikan keamanan agar tidak mudah tengik,” ujarnya.
Dalam pengerjaannya, Anivea dibantu dua orang untuk membersihkan kulit ikan.
Beruntungnya, dalam menjalankan bisnis ini ada mitra yang mensuplay bahan baku. Meski harga kadang tidak stabil, produksi tetap jalan. “Alhamdulillah untuk bahan baku aman dan bisa produksi lancar,” ujarnya.
Kepingan keripik kulit ikan dengan varian original salted egg dan spicy salted egg itu sudah melanglang buana ke Surabaya, Jogjakarta, hingga Jakarta. Keripik yang dibanderol Rp 25 ribu per pouch itu bisa tahan dua bulan karena teknik menggorengnya benar - benar kering.
Mimpi Anivea tak berhenti di pasar domestik. Dia menatap cakrawala yang lebih jauh: pasar ekspor. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma