radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Di sebuah sudut bangunan sederhana di gang Arjuno Lamongan, kepulan asap tipis membawa aroma manis yang khas.
Bukan sekadar panganan, di tangan Romlah, deretan wingko itu adalah manifestasi dari ketelatenan selama lebih dari seperempat abad.
Meski menyandang nama "Babat", wingko tak melulu harus dicari ke ujung barat Lamongan itu. Di jantung kota, seperti samping Stasiun Lamongan hingga masuk pemukiman, kudapan berbahan ketan dan kelapa ini tumbuh subur.
Salah satunya, Wingko Arjuno. Nama yang diambil dari gang tempat usaha itu bermula dan membesar.
"Menjelang hari raya hingga usai hari raya yang ramai," tutur Romlah, pemilik Wingko Arjuno tersebut.
Perempuan 65 tahun itu bukan pemain baru. Dia mulai merintis usahanya sejak 1998.
Kala itu, pesanan hanya datang satu - dua. Skalanya sangat kecil.
Titik balik baru terasa pada 2015. Pesanan mulai membeludak hingga dia memberanikan diri memberi branding sesuai nama gang tempat tinggalnya.
Bagi Romlah, rahasia kelezatan wingko miliknya terletak pada pemilihan bahan baku. Dia antikelapa tua. Pilihannya selalu kelapa muda yang baru dikupas.
Jika menggunakan kelapa tua, maka rasanya tidak bisa legit. Selain kelapa muda, adonan itu membutuhkan tepung ketan, gula, dan telur. Namun, takarannya adalah insting yang sudah terasah puluhan tahun.
"Semua bahan diolah saya sendiri Mas hingga saat ini," ucapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.
"Dalam satu hari saat ini (Ramadan) bisa menghabiskan sebanyak 50 butir kelapa," ujarnya.
Namun, saat "musim" mudik tiba, H-3 hingga pascalebaran, jumlahnya melonjak drastis. Dia bisa menghabiskan 200 hingga 300 butir kelapa muda dalam sehari.
Romlah tak pernah mencatat secara kaku berapa ribu keping wingko yang terjual. Maklum, dia memproduksi berbagai ukuran: kecil, sedang, hingga besar.
"Saya jarang tanya hari ini buat berapa atau dapat uang berapa. Kejujuran saja (sama karyawan)," tuturnya.
Proses pemanggangan wingko adalah ujian kesabaran. Satu loyang wingko butuh waktu sekitar dua jam hingga matang sempurna. Apinya harus kecil. Di bawah loyang, masih dilapisi pelat besi agar panas merata dan tidak lekas gosong.
"Wingko bisa bertahan sampai 4 hari lamanya dengan kondisi sudah dingin dan dimasukkan kardus lebih aman," ujarnya.
Di tengah gempuran camilan modern, Romlah tetap bertahan dengan api kecil dan kelapa mudanya. Menjaga tradisi manis dari Gang Arjuno agar tetap bisa dinikmati para pemudik yang rindu pulang ke Lamongan. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma