radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Warno meneruskan usaha kikil sapi orang tuanya yang dirintis sejak 1971. Dengan gerobak dorongnya, dia mangkal di dekat mes Persela Lamongan sejak sore.
GAMAL A, Radar Lamongan
Resep bumbu kikil sapi orang tuanya menjadi warisan berharga bagi Warno.
Dari perpaduan racikan bumbu — bumbu dapur itu, dia berjualan menggunakan gerobak dorong.
Pria 44 tahun asal Pengumbulanadi , Kecamatan Tikung itu mengenang orang tuanya dulu menggunakan gerobak pikul untuk berjualan.
Tempat mangkalnya lebih banyak di baratnya gedung Pemkab Lamongan yang dulunya terminal.
Warno sering mengikuti orang tuanya berjualan. Dia memerhatikan cara orang tuanya melayani pembeli.
Hingga akhirnya, dia terbiasa ikut melayani pesanan pembeli. Saat itu, seporsi lontong kikil dijual Rp 100.
Usia yang tak bisa dilawan, membuat orang tuanya berhenti berjualan. Sejak 2008, dia menggantikan peran orang tuanya tersebut. Ketika awal berjualan, harga seporsi lontong kikil sapi dijual Warno Rp 17 ribu.
"Masih tetap menggunakan arang untuk menghangatkan kuah hingga dagingnya tersebut," tuturnya.
Karena menu jualannya kikil, pengolahan terlama adalah pengolahan daging kaki sapi tersebut. Warno harus mendapatkan sapi muda agar perebusannya lebih cepat, sekitar dua jam. Jika sapinya sudah berumur, maka perebusan kikil bisa hingga 4 jam lamanya. Itu belum terhitung waktu pembakaran kaki sapi untuk menghilangkan bulu — bulunya.
Waktu perebusan yang pas bakal menghasilkan kikil yang lembut dan tidak susah saat digigit. Sementara untuk menghilangkan bau apek, Warno menyiapkan racikan bumbu tersendiri.
Saat ini, setiap kali hendak berjualan membeli 12 kilogram (kg) kikil sapi dan 6 kg beras untuk lontong, jelasnya.
Dia berjualan dengan kuah bening. Karena berjualan di tengah kota, pelanggan Warno lebih banyak berasal dari orang — orang sekitar. Atau keluarga yang bepergian ke Kecamatan Lamongan. (*/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma