radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Kota Wingko, Babat, tak hanya dikenal dengan jajanan berbahan kelapa tersebut. Aneka ragam kuliner dan jajanan juga tersedia, baik pagi maupun sore hingga malam. Salah satunya, warung nasi jagung di Jalan Pramuka Babat.
GAMAL A, Radar Lamongan
Wiwik, 35, sudah lama berjualan nasi jagung. Dia awalnya membantu orang tuanya, sekitar 20 tahun lalu.
Dia mengingat saat itu orang tuanya menjual seporsi nasi jagung dengan ikan pindang, sayur lodeh, dan peyek Rp 5 ribu.
Kini, dia yang meneruskan usaha orang tuanya tersebut, menjual seporsi nasi jagung Rp 12 ribu.
Sekarang, ikannya tidak hanya pindang. Ada pilihan ikan asap seperti tongkol.
"Kalau urap — urap serta ikan asin sejak dulu sudah ada, jadi tak menghilangkan menu punya orang tua dulu," tuturnya.
Banyak pilihan menu, banyak peluang dikunjungi pelanggan.
Di warungnya, Wiwik juga menambah menu lontong sayur.
Setiap hari, 3 kilogram (kg) beras dijadikan 80 biji lontong.
Sementara nasi jagung yang menjadi menu utama, setiap hari memasak 8 kg beras jagung.
"Pelangan banyak juga dari luar kota seperti Gresik, Surabaya, Mojokerto," ujarnya.
Tak hanya nasi dan lontong. Jajanan jadul juga ada di warung Wiwik.
Mulai serabi, serawut, hingga lemet. Wiwik mengatakan, dirinya hanya penerus usaha yang dirintis orang tua.
Bahkan, saudara dan ipar juga ikut berjualan. Mereka yang membuat jajanan tradisional. Seperti serabi. Jajanan yang dulu dijual Rp 500, terus dipertahankan ada di warung.
Hanya, harganya sudah berubah, mengikuti harga bahan jajannya. Serabi kini dijual Rp 4 ribu per porsi. (*/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma