radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Sulisno membaca peluang usaha berjualan soto ayam dengan mendengarkan keinginan pelanggannya.
Pernah berjualan pagi dan malam, dia akhirnya mantap untuk mencari rezeki saat dinihari.
Gerobak soto ayam Sulisno datang, beberapa motor mendekat.
Udara dingin dinihari itu tak menghalangi niat para pengendara motor tersebut untuk makan soto dengan duduk di trotoar dan kursi plastik dijadikan meja itu.
Mereka tertib mengantre di pinggir jalan sekitar perempatan Jl Pahlawan Lamongan tersebut.
Sulisno berjualan soto dengan gerobak dorongnya mulai pukul 01.00.
‘’Saya sendiri berjualan sejak tahun 2009 lalu. Namun, tak menetap di sini. Keliling di Made dengan gerobak,’’ jelas bapak dua anak ini.
Berjualan di Lamongan, Sulisno tidak kesulitan dalam meracik bumbu.
Dia sudah memiliki pengalaman berjualan di kota besar.
‘’Resep saya sendiri sejak dulu berjualan di Surabaya,’’ tuturnya.
Setelah berkeliling dengan gerobaknya, Sulisno ingin berjualan secara menetap.
Merasa cocok dengan lokasi di perempatan jalan tersebut, dia lalu mencobanya.
Awalnya, Sulisno berjualan pagi.
Sejumlah pembeli yang datang, malah menyarankannya untuk berjualan soto ayam saat malam.
Respons pembeli memang lebih banyak dibandingkan saat berjualan pagi.
Namun, saran datang lagi dari pembeli. Sulisno diminta berjualan mulai dinihari hingga menjelang subuh.
Alasannya mereka, alternatif makanan saat dinihari sangat terbatas. Padahal, denyut nadi Kota Lamongan terus berjalan.
Dengan sejumlah pertimbangan, Sulisno menuruti saran tersebut.
‘’Terutama pelanggan saya itu, beberapa pemandu lagu, menginginkan buka dinihari ini Mas,’’ ujarnya.
Ternyata, membuka usaha dinihari itu menjadi pilihan paling tepat baginya.
Hingga saat ini, sudah tujuh tahun lamanya Sulisno berjualan menetap di lokasi tersebut.
Setiap hari, dia merebus 10 ekor ayam dan 7 kilogram (kg) beras untuk nasinya.
Gaya bercanda Sulisno saat melayani pembeli membuat dia memiliki pelanggan tetap. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma