radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Soto babat identik dengan jeroan sapi.
Di Desa Sugihwaras, Kecamatan Deket, warung milik M Ridwan, 46, menjadi jujugan pecinta kuliner soto babat.
Warung berwarna kombinasi kuning dan hijau itu ramai dikunjungi pelanggan.
Mereka berasal dari warga setempat, karyawan swasta hingga pegawai negeri sipil yang ingin menikmati makan siang.
Ridwan, pemilik warung soto babat, sudah berjualan sejak 2008.
Bahkan, warung itu kini dikembangkan dengan menambah menu gado – gado dan bakso.
‘’Kalau di sini, saya berjualan soto babat sejak tahun 2008. Di Surabaya sejak 1984,’’ cerita Ridwan.
Dia memilih tetap berjualan soto babat di kampung halaman setelah merantau di Surabaya karena Ridwan merasa sudah memiliki racikan bumbu yang pas di lidah.
‘’Merebus babat yang lama. Tiga kali pembersihan untuk hilangkan baunya,’’ imbuh bapak dua anak ini.
Setelah dicuci, babat direbus hingga airnya mendidih.
Setelah itu, babat dibersihkan menggunakan pisau, lalu dipotong kecil – kecil.
Selanjutnya, babat direbus lagi.
Dibersihkan lagi. Setelah itu, direbus kembali dengan dicampuri bumbu rempah – rempah.
Menurut Ridwan, kunyit dan jahe dapat membantu menghilangkan bau apek babat.
‘’Setiap harinya, (babat) satu sapi,’’ ujarnya.
Babat satu sapi beratnya diperkirakan 10 - 15 kilogram (kg) beserta usus.
Karena jualan sudah lama, warung Ridwan sering dikunjungi pelanggan lawas. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma