radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Soto ayam di pertigaan Pucuk ke utara ini maksimal buka sekitar empat jam.
Sebab, soto Mbah Amrin itu sudah dikenal sejak lama.
Namanya memang soto Mbah Amrin.
Namun, penjual di warung soto tersebut belum terlihat seperti kakek - kakek.
Penjual di warung soto menghadap timur, sejarak 100 meter dari pertigaan Pucuk itu berusia 51 tahun.
Dia adalah Ahmad Arifin, anak dari Mbah Amrin.
Di warung tersebut, rombong soto yang digunakan berbentuk kuno.
Rombong pikul yang digunakan Arifin itu juga warisan dari bapaknya.
‘’Kalau rombong ini peninggalan orang tua dulu, saat masih jualan dipikul ke wilayah Kecamatan Sekaran,’’ ujar Arifin mengenang perjuangan ayahnya berjualan soto semasa masih hidup.
Mbah Amrin sudah berjualan soto sejak Arifin masih kecil.
Sedangkan Arifin mulai berjualan soto sejak 1989.
Saat itu, Arifin menjual soto ayam dengan harga seribu rupiah per porsi.
‘’Saat ini untuk satu porsi soto ayam kampung, harga Rp 15 ribu,’’ tutur bapak tiga anak itu.
Semasa hidup, Mbah Amrin tak hanya mewariskan takaran bumbu kepada Arifin.
Dia juga berpesan agar anaknya berjualan soto menggunakan ayam kampung.
Citra rasa ayam kampung dinilai berbeda dengan ayam lainnya.
Sehari, Arifin memotong delapan ekor ayam.
Sementara berasnya, 5 kg.
Dia membuka usahanya mulai sebelum salat magrib.
‘’Untuk pelanggan sendiri, tak hanya dari Lamongan.
Dari beberapa kota tetangga juga,’’ tuturnya. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma