radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Nasi bungkus pondok.
Nama itu menjadi sebutan nasi bungkus yang dijual di lingkungan Kranggan, Kelurahan Sidokumpul, Lamongan.
Sebagian warga yang tinggal di jantung Kota Lamongan, sudah familiar dengan nama nasi bungkus pondok.
Bukan hanya di kalangan anak kos, juga karyawan swasta hingga pegawai di lingkup Pemkab Lamongan.
Calon pembeli tinggal memilih menu yang ada.
Selanjutnya, sang penjual, Munawaroh, 53, mengambil kertas dan nasi.
Menu yang disebut pembeli kemudian ikut dimasukkan.
Ada mi plus tauge, beragam ikan, serta ayam kecap.
Munawaroh awalnya berjualan ingin melayani anak sekolah dan anak pondok, serta anak kos – kosan.
Dia menjual nasinya dengan harga murah dibandingkan nasi sejenis di tempat lain.
‘’Saya berjualan dengan menu yang sederhana, tak begitu ribet, asalkan anak – anak bisa makan dengan harga murah,’’ tuturnya.
Awal berjualan pada 2007, seporsi nasi bungkus Munawaroh dijual Rp 2 ribu.
Saat ini, harganya Rp 6 ribu untuk satu porsi.
Harga yang relatif masih sangat terjangkau.
‘’Namanya juga menjual untuk anak pelajar Mas. Namun sekarang sudah merambah yang beli saat pagi banyak karyawan kantor hingga swasta,’’ ujarnya.
Para pelanggannya menyebut nama nasi bungkus pondok karena tempat berjualan Munawaroh dekat dengan pondok pesantren putra Al Ma’ruf di Kranggan.
Munawaroh tidak memasang pelang tanda tempat berjualannya.
‘’Saat ini setiap harinya menghabiskan nasi kurang lebih 25 kg setiap kali jualan,’’ jelasnya.
Namun, Munawaroh tak menghitung jumlah porsi nasi bungkus yang dijualnya per hari.
Apalagi, banyak yang menambah menu, dengan harga berbeda.
Dia berjualan setiap hari mulai pukul 06.00 - 09.00.
Saat Jumat, jualannya lebih cepat karena banyak pesanan untuk dibagi – bagikan ke orang lain. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma