LAMONGAN, Radar Lamongan - Rujak berdaun jati jarang ditemui.
Apalagi makannya dengan kerupuk besar.
Strategi itu digunakan penjual rusak di pinggir jalan Mantup – Kedungpring ini.
Pohon – pohon jati membuat suasana sejuk di sekitar alas Kalilunyu, Desa Sumberbendo, Kecamatan Mantup.
Beberapa remaja dan orang dewasa yang mengendarai motor dan menumpang mobil, memilih berhenti di kawasan tersebut.
Mereka menuju bangunan semipermanen yang ada.
Memesan gorengan, es tebu atau rujak cingur.
Di bagian lain, sebagian orang sudah menikmati rujak.
Mereka menyantap makanan tersebut sambil menikmati hembusan angin sepoi – sepoi di bawah pohon jati.
Rujak cingur itu menjadi menu favorit lima bulan terakhir.
Sebelumnya, warung itu hanya menjual es tebu dan gorengan.
Rujak dihadirkan setelah Yanik, 46, mengikuti langkah suaminya untuk berjualan.
Sebelumnya, dia menjadi pegawai salah satu perias pengantin di Lamongan.
‘’Saya memutuskan untuk ikut suami buka warung,’’ ujarnya.
Sebelumnya, selama empat tahun, warung itu dijaga suaminya, Huda.
Ide menjual rujak muncul karena Yanik suka dengan makanan yang berbahan petis itu.
‘’Kalau rujak cingur tentunya hampir sama. Di sini menggunakan kerupuk besar zaman dulu,’’ tuturnya.
Gorengan ote – ote dipotong kecil – kecil untuk menambah rasa beda rujak Yanik. Sementara lontong dan buah - buahan tidak ditinggalkan.
Agar aroma lebih sedap, pembungkusnya daun jati.
Pada hari – hari biasa, Yanik menghabiskan sekitar 200 porsi. Hari libur, lebih banyak lagi. ‘’Kalau ramai biasanya pada hari Sabtu dan Minggu banyak pengunjung dari Mojokerto, Jombang, serta Lamongan Kota,’’ ujarnya.
Satu porsi rujak cingur dijual maksimal Rp 15 ribu, tergantung tambahan yang diinginkan. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma