LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - PSSI dikabarkan mencabut larangan suporter away dalam kompetisi musim 2026/2027.
Paska insiden memilukan di Stadion Kanjuruhan 2022, sepak bola Indonesia berduka akibat kejadian tersebut.
Sehingga dalam beberapa kali kompetisi, PSSI secara resmi melarang kehadiran supporter tamu.
Baca Juga: KMN Entok Sekitar 40 Hari Hilang Kontak, Keluarga Korban Ikut Sisir Bersama Tim SAR
Namun melihat kedewasaan suporter, akhirnya PSSI mencabut larangan tersebut.
Direktur Bisnis Persela Pradita Aditya menyambut positif kabar pencabutan larangan supporter tim tamu.
Kehadiran suporter away secara industri jelas memberikan dampak bisnis yang masif bagi klub.
Mulai dari atmosfer pertandingan yang lebih hidup, hingga dampak ekonomi langsung terhadap ticketing dan ekosistem UMKM di sekitar stadion.
Baca Juga: Montir Jadi Perantara Sabu di Lamongan Divonis Lebih Ringan 2,5 Tahun dari Tuntutan JPU
Langkah antisipasi dari sisi bisnis dan manajemen, Adit mengaku selalu siap bergerak dinamis.
Namun fokus sekarang menunggu salinan regulasi tertulis resmi dari PSSI dan PT LIB.
“Hitung-hitungan operasional dan skema pengelolaan penonton akan langsung kami matangkan begitu black and white (regulasi resmi) tersebut kami terima,” ujarnya.
Adit berpesan untuk seluruh elemen suporter, baik L.A. Mania maupun Curva Boys dan lainnya untuk mempersiapkan diri.
''Jika regulasi ini resmi berjalan, harapannya Lamongan bisa menjadi tuan rumah yang ramah sekaligus tamu yang tertib demi kemajuan sepak bola Indonesia,'' ucapnya.
Semada, Koordinator Curva Boys, Basir juga menyambut positif pencabutan larangan away. Kebijakan itu diharapkan bisa saling menjaga silaturahmi antar suporter.
Baca Juga: Enam Bulan Sebanyak Tujuh TPQ Baru Berdiri di Lamongan
Selain itu, diakuinya, kalau ada suporter yang bertandang ke Lamongan, tentu dari suporter tuan rumah bisa mengambil peran dalam memperkenalkan produk unggulan Lamongan.
Sehingga suporter juga berkontribusi dalam kemajuan ekonomi lokal Lamongan.
Harapannya PSSI maupun PT LIB bisa konsisten dalam pengambilan keputusan ataupun hukuman kedepan.
“Jika diingat, larangan suporter tandang, tentu ada sebab dan dengan konsekuen itu kami berharap ada efek jera agar tidak terulang. Kami percaya sepak bola adalah alat perjuangan dan persatuan,” tuturnya. (rka/ind)
Editor : Indra Gunawan