LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Sudut ruang tamu di sebuah rumah di Desa Pelang, Kecamatan Kembangbahu, seketika berubah menjadi oase imajinasi. Jumat (17/4), suasana tampak hening, namun gaduh oleh warna-warni yang menari di atas kanvas.
Di sana, Muhammad Bagus Ramadhan duduk dengan gestur tenang. Namun, matanya menatap tajam ke arah sebuah kanvas unik berbentuk lingkaran.
Jemarinya lincah, memindahkan potongan-potongan pikiran ke dalam media yang tak biasa itu.
Bagi pria yang akrab disapa Rama ini, seni bukanlah persinggahan baru. Ia telah menjalin asmara dengan dunia rupa sejak masih berseragam TK.
Baca Juga: Persela Lamongan Memiliki Misi Hadang Langkah Barito Putera dalam Perebutan Tiket ke Super League
Sempat mencicipi liukan seni patung saat duduk di bangku SD, takdir akhirnya membawanya kembali ke pelukan seni lukis hingga ia kini menyandang status sebagai seorang dosen.
‘’Untuk media, biasanya saya sering menggunakan acrylic on canvas,’’ tutur Rama dengan nada rendah, di sela-sela sapuan kuasnya.
Bagi Rama, melukis bukan sekadar urusan estetika atau memindahkan pigmen warna ke atas serat kain.
Baca Juga: Kreativitas Anak dan Kehangatan Keluarga Bakal Menyatu di Sport Center Lamongan
Ada beban moral yang ia jinjing di setiap goresan. Tantangan terberatnya bukanlah soal teknik atau kerumitan detail, melainkan sebuah pertanggungjawaban.
‘’Jadi pelukis tidak hanya membuat sebuah karya, tapi mempertanggungjwabakan karya itu sendiri,’’ katanya.
Jika ditanya soal gaya, Rama enggan terkotak dalam satu label kaku. Ia menyebut karyanya berada di koridor kontemporer.
Baginya, seni kontemporer adalah ruang tanpa batas di mana semua aliran sah untuk berbaur, selama ia mampu mengangkat isu-isu kekinian dengan media yang beragam.
Meski begitu, jika ditelaah lebih dalam, karya Rama merupakan perkawinan unik antara aliran naif dan surealis.
‘’Karena naif surial tak ambil konsepnya itu sesuai kondisi absurditas yang ada pada dunia sekarang,’’ ujarnya.
Tema-tema yang lahir dari tangan Rama kerap kali bersifat introspektif. Ia gemar menyelami sisi psikologis manusia; bagaimana batin seseorang remuk atau tangguh karena tempaan lingkungan sekitar.
Realitas sehari-hari ia saring, lalu ia sajikan kembali dalam bentuk visual yang terkadang ganjil namun sarat makna.
Baca Juga: Persela Bantai Persipal Palu 7-1, Dua Putra Daerah Lamongan Banjir Gol
Setiap lukisan Rama adalah sebuah pesan yang terenkripsi. Meski tiap karya membawa narasi yang berbeda, benang merahnya tetap sama, upaya mengungkap kedalaman jiwa manusia.
“Pesannya selalu ada, tapi bisa berubah-ubah. tapi konteks utamnaya membahas atentang psikologis sesorang lebih dalam lagi, saya gambarkan dalam visualnya,” ujarnya.
Perjalanan Rama pada dunia seni bermula dari krayon di bangku TK. Sempat singgah pada seni patung saat SD, tapi akhirnya hatinya tetap berlabuh pada seni melukis di atas kanvas dan di dinding (mural).
Baginya, mural bukan sekadar urusan komersil antara pelukis dan pemilik, melainkan tentang bagaimana sebuah warna bisa memengaruhi psikologi seseorang yang menatapnya.
Dalam praktiknya, mural memiliki karakter berbeda dibanding lukisan kanvas. Menurut Rama, mural lebih dekat dengan kebutuhan komersial karena biasanya dikerjakan berdasarkan permintaan klien. Mulai dari restoran hingga sekolah menjadi ruang berkaryanya.
‘’Artinya kita membuat karya berdasarkan permintaan klien, misalnya untuk resto, untuk sekolahan, dan sebagainya,” terang laki-laki 31 tahun ini.
Dari sisi teknik, dia menggunakan metode melukis pada umumnya. Hanya saja, media yang dipakai berbeda, seperti cat tembok untuk menghasilkan karya berukuran besar.
Namun, proses pengerjaan mural tidak selalu mudah. Faktor cuaca menjadi salah satu tantangan utama, terutama untuk proyek luar ruangan.
Baca Juga: Kinerja Moncer, PT BPR Bank Daerah Lamongan Boyong Penghargaan TOP BUMD Awards 2026
Selain itu, proses memperbesar sketsa dari ukuran kecil ke bidang besar juga membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.
“Kalau gambar kecil diperbesar sampai 10 meter, itu butuh waktu lama. Apalagi harus naik turun scaffolding,” katanya.
Durasi pengerjaan mural pun bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan desain.
Untuk gambar sederhana berukuran besar, pengerjaan bisa selesai dalam satu hingga dua hari dengan bantuan tim.
Namun, untuk konsep yang lebih kompleks, waktu pengerjaan bisa lebih panjang.
Dalam menentukan desain, Bagus memberikan fleksibilitas kepada klien. Dia bisa merealisasikan konsep dari pemesan atau menawarkan ide sendiri jika klien belum memiliki gambaran.
Menariknya, mural tidak sekadar soal estetika. Bagus menekankan pentingnya aspek psikologis dalam pemilihan warna, terutama untuk ruang anak.
‘’ Ternyata ketika mural itu untuk ruangan anak, warna yang dipakai yakni harus warna soft. Psikologis anak itu berubah ketika melihat warna terang dan warna gelap itu berubah,” ungkapnya. ‘’ Mural itu bukan hanya berbicara tentang estetika, tapi ketepatan fungsinya juga,’’ imbuhnya.
Dia mulai serius menekuni dunia mural sejak sebelum lulus kuliah, sekitar Tahun 2011.
Sejak saat itu, berbagai proyek telah dia kerjakan, meski sebagian besar masih berada di wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Baca Juga: Ceria Bersama Keluarga, Orang Tua Kompak Dampingi Buah Hati Mengikuti Festival 3M
Kedepan, Bagus memiliki visi lebih besar. Dia ingin mural tidak hanya menjadi hiasan dinding, tetapi juga berfungsi sebagai media edukasi, khususnya bagi anak-anak.
‘’Kalau dapat project di kota lain, mural itu sudah jadi edukasi, buat edukasi anak-anak, sudah ditaruh sekolah itu sudah jadi media pembelajaran mereka.
Jadi guru tinggal membawa ke situ, ketika tematiknya tentang ini, ada gambarnya ini, nanti di situ mereka bercerita tentang gambar di situ,” tuturnya. (sip/ind)
Editor : Indra Gunawan