LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Ramainya pemberitaan hengkangnya sejumlah pemain Persela Lamongan ke PSIS Semarang akhirnya mendapat tanggapan dari internal Laskar Joko Tingkir.
Manajemen Persela menegaskan, perpindahan enam pemain tersebut bukanlah proses transfer yang berjalan normal.
Enam pemain yang dimaksud adalah Wawan Febrianto, Ocvian Chanigio, Esteban Vizcarra, Otavio Dutra, Alberto Goncalves, dan Mario Londok. Mereka meninggalkan Persela menuju PSIS Semarang dalam waktu yang berdekatan, bahkan saat bursa transfer belum resmi dibuka.
Situasi itu memunculkan tanda tanya di kalangan suporter. Terlebih, para pemain tersebut diketahui masih memiliki ikatan kontrak dengan Persela.
Asisten pelatih sekaligus Plt. Manajer Persela, Ragil Sudirman, mengungkapkan bahwa kepergian para pemain tersebut tidak disertai adanya kompensasi apa pun bagi Persela.
“Tidak ada biaya transfer ataupun kompensasi. Padahal secara aturan, seharusnya ada mekanisme penebusan sisa kontrak,” ujar pria asal Karanggeneng, Kamis (8/1) sore.
Ragil menjelaskan, hengkangnya sejumlah pemain terjadi bersamaan dengan masa peralihan manajemen Persela. Kondisi itu, menurutnya, dimanfaatkan untuk memindahkan pemain tanpa melalui prosedur sebagaimana mestinya.
Pelatih berusia 60 tahun itu menyebut, saat dirinya masih menjabat sebagai pelatih karteker, akun LIAS Persela belum sepenuhnya diserahkan dari manajemen lama kepada manajemen baru. Akibatnya, terjadi pengeluaran pemain yang dinilai tidak wajar.
“Di situ ada celah. Beberapa pemain dikeluarkan dan langsung dibuatkan surat keluar, ini kan nggak Fair, kalau keluar seharusnya semua harus diserhakan semua ke manajemen baru” katanya.
Ia menegaskan, tidak semua pemain yang hengkang sebenarnya siap dilepas. Bahkan, sebagian masih masuk dalam rencana tim untuk melanjutkan kompetisi Liga 2 Championship.
Ragil juga membantah anggapan bahwa para pemain tersebut dilepas karena tidak sesuai dengan kebutuhan pelatih baru.
“Contohnya Mario Londok. Performanya sedang bagus dan masih sangat dibutuhkan. Tidak logis kalau dilepas begitu saja,” ujarnya.
Menurut Ragil, kondisi ini perlu diluruskan agar publik mengetahui duduk persoalannya. Ia menilai apa yang terjadi bukan sekadar perpindahan pemain biasa.
“Kalau melihat prosesnya, ini jauh dari kata transfer normal,” pungkasnya.
Sebelum akhirnya memutuskan angkat kaki dari posisi CEO Persela, Fariz juga disebut memiliki persoalan dengan pelatih Aji Santoso. Hal itu pernah disampaikan Aji usai dirinya dicopot oleh manajemen Persela sebelumnya.
Aji mengungkapkan, dalam perjalanannya menangani tim, urusan teknis hingga perekrutan pemain lebih banyak ditentukan oleh manajemen dibandingkan kewenangan pelatih. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta