LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Akuisisi mayoritas saham PSIS Semarang oleh Datu Nova Fatmawati, istri dari CEO Persela Lamongan Fariz Julinar Maurisal, memicu kegelisahan besar di kalangan suporter fanatik Persela.
Dua kelompok pendukung utama, L.A Mania dan Curva Boys, menilai langkah tersebut mencederai kepercayaan publik sekaligus menimbulkan potensi konflik kepentingan dalam pengelolaan klub.
Penolakan itu terlihat jelas ketika kedua kelompok sepakat tidak menghadiri undangan pertemuan yang dijadwalkan manajemen Persela di Dapur Kopi pada Kamis malam (20/11). Bagi para suporter, sikap itu menjadi bentuk ketegasan terhadap langkah keluarga Fariz yang dinilai tak sejalan dengan semangat membesarkan Persela.
Pentolan Curva Boys, Basir, menyuarakan kekecewaan mendalam atas keputusan akuisisi tersebut. Ia menilai langkah itu menunjukkan hilangnya prinsip fair play dan profesionalisme dalam mengelola klub.
“Pertama tentu kami sangat terkejut. Kami tidak sependapat dengan langkah manajemen sekarang, Pak Fariz. Mengingat dalam sepakbola ada prinsip fair play. Dan dalam pengelolaan tim profesional, setiap pengelola dituntut untuk bisa menghindari konflik kepentingan,” kata Basir saat dikonfirmasi wartawan Jumat (21/11).
Ia juga mengingatkan potensi risiko yang dapat muncul di kemudian hari. “Kami semua sangat menyayangkan dan kawatir akan dampak buruk bagi tim Persela ke depan. termasuk jika ada regulai yang dilanggar,” ujarnya.
Basir menjelaskan bahwa sikap resmi Curva Boys telah dituangkan dalam manifesto yang diunggah melalui akun Instagram. Intinya, mereka menuntut manajemen menepati janji untuk membawa Persela promosi ke Super League.
Penolakan menghadiri undangan manajemen, menurut Basir, dilakukan demi mencegah situasi semakin memanas.
“Secara pribadi, menurutku ini lebih untuk menjaga kebaikan bersama, terutama antara kami dengan manajemen. Hal yang mengejutkan seperti ini bisa memicu konflik lebih besar. Kita fokus menenangkan diri dulu. Kalau nanti situasi sudah tenang, baru kita bicara baik-baik untuk Persela yang lebih baik,” ucapnya.
Sikap serupa datang dari pentolan L.A Mania, Amar. Ia menilai akuisisi PSIS oleh keluarga Fariz membuka ruang besar bagi konflik kepentingan, mengingat kedua klub berada di level kompetitif yang sama dan satu grup kompetisi.
“Kami tidak setuju karena kedua klub sama-sama satu level. Rawan keterpihakan hanya karena berlandaskan bisnis,” ujarnya.
Amar juga menyoroti soal prioritas manajemen Persela yang dikhawatirkan tidak lagi sepenuhnya tertuju pada Laskar Joko Tingkir setelah kepemilikan saham PSIS berpindah tangan.
“Bisa jadi separuh hati dalam mengelola tim, terutama Persela, yang notabene saham Pak Fariz tidak begitu besar,” tuturnya.
Ia bahkan mengusulkan agar Persela dipimpin oleh manajer yang lebih fokus dan profesional. “Ganti manajer yang benar-benar mampu mengelola tim sepak bola,” tegasnya. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta