Oleh:
ANJAR DWI PRADIPTA
PEWARTA FOTO JAWA POS RADAR LAMONGAN.
Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap menggerus identitas lokal, Lamongan memiliki satu kekuatan kultural yang tetap hidup dan berdenyut kuat di hati warganya yakni, Persela Lamongan. Lebih dari sekadar klub sepak bola, Persela adalah representasi kebanggaan, semangat kolektif, dan wajah daerah di panggung nasional.
Dari tribun Stadion Surajaya, suara rakyat Lamongan menggema, membentuk rasa memiliki yang tak mudah tergantikan. Maka tak berlebihan bila dikatakan, membangun Lamongan bisa dimulai dari Persela.
Perjalanan Persela bukan tanpa cerita. Klub ini sempat menjadi tim kecil yang hanya dikenal di kompetisi amatir. Namun titik baliknya muncul saat Bupati Lamongan kala itu, Masfuk, mengambil langkah strategis. Ia sadar, sepak bola bisa menjadi alat efektif untuk membangkitkan semangat daerah.
Di awal 2000-an, Masfuk mendorong kebangkitan Persela secara serius, baik dari sisi anggaran, infrastruktur, hingga kelembagaan. Stadion Surajaya mulai diperbaiki, manajemen klub dibenahi, dan klub ini pun bertransformasi menjadi kekuatan baru.
Puncaknya, Persela berhasil promosi ke kasta tertinggi Liga Indonesia pada tahun 2003, dan bertahan di sana selama lebih dari satu dekade. Sebuah pencapaian luar biasa bagi klub dari kota kecil.
Setiap kali Persela berlaga, terutama di Surajaya, denyut ekonomi dan semangat kolektif warga bergerak serentak. Warga dari berbagai penjuru wilayah Lamongan tumpah ruah ke stadion. Persela bukan lagi hanya tim sepak bola, ia adalah pengikat sosial yang menyatukan masyarakat lintas usia, profesi, dan latar belakang.
Namun, tantangan zaman berubah. Beberapa tahun terakhir, meski jarang diterpa krisis finansial, Persela belum mampu kembali bersaing di Liga 1. Berbeda dengan dahulu ketika pengelolaan tim masih bisa menggunakan dana APBD, kini klub profesional dituntut mandiri secara finansial.
Persela pun menyesuaikan dengan era baru, mengandalkan sponsor dan manajemen mandiri. Sayangnya, prestasi belum juga datang. Target promosi selalu kandas.
Di sisi lain, masalah kedewasaan suporter masih menjadi pekerjaan rumah. Berulang kali sanksi dijatuhkan oleh Komite Disiplin akibat ulah sebagian oknum. Puncaknya, musim ini Persela harus bermain tanpa dukungan langsung suporternya, imbas kericuhan di Stadion Tuban Sport Center musim lalu.
Situasi ini sejatinya membuka peluang refleksi bersama. Justru dari kondisi ini, momentum untuk membangun Lamongan dari Persela bisa digerakkan kembali. Menghidupkan kembali sepak bola lokal sebagai lokomotif peradaban sosial, ekonomi, dan kebanggaan daerah.
Karena sepak bola bukan hanya olahraga, tapi bahasa rakyat. Stadion bukan sekadar arena pertandingan, melainkan ruang ekonomi rakyat. Saat Surajaya ramai, warung laris, UMKM bergerak, identitas Lamongan hidup.
Ditengah keterpurukan prestasi olahraga Lamongan di berbagai ajang. Maka sudah saatnya semua pihak, pemerintah daerah, pengusaha lokal, akademisi, dan komunitas suporter duduk bersama. Bukan hanya bicara skor akhir, tapi menyusun ekosistem sepak bola Lamongan. Dari akademi usia dini, pemberdayaan ekonomi stadion, hingga budaya suporter yang sehat dan dewasa.
Kita telah melihat bagaimana klub seperti Arema membentuk identitas Malang, atau bagaimana Persebaya Surabaya menjadi simbol kebanggaan kota Surabaya atau bahkan sebagian wilayah Jawa Timur. Lamongan pun bisa. Modalnya sudah ada, sejarah, basis massa, dan semangat komunitas.
Membangun Lamongan tak cukup hanya dengan infrastruktur. Dibutuhkan juga semangat kolektif yang hidup satu stadion yang menyala, satu klub yang dicintai, dan kebanggaan yang menyatukan. Dan semua itu, bisa dimulai dari Persela.
Lamongan harus benar-benar megilan, megilan infrastrukturnya, megilan persela-nya. (jar)
Editor : Anjar D. Pradipta