Memimpin Sekolah dengan Hati, Dedikasi Tanpa Henti
radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Bagi dunia pendidikan Lamongan, nama Dr Hj Hibatun Wafiroh tentu bukan asing. Kepala SMP Negeri 1 Sugio ini adalah potret nyata seorang pendidik yang menolak berhenti belajar. Peran aktifnya sebagai akademisi dalam memajukan budaya literasi dan artikel ilmiah membawanya meraih penghargaan Jawa Pos Radar Bojonegoro Award 2026 kategori Inspiring Education Figures, kamis (17/9) di Hotel Aston Bojonegoro.
Filosofi Tri Open dan Memanusiakan Manusia
Langkah besar Bu Wafi, sapaan akrabnya, tidak lahir dari ruang hampa. Peraih gelar doktor Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada Januari 2025 ini memimpin dengan pendekatan khas: Leadership Model for Humanizing School Transformation.
Dia menerapkan strategi 3-Open yang diadaptasi dari Teori U karya Prof. Otto C. Scharmer. Yakni, Open mind (keterbukaan pikiran), membuka diri terhadap perspektif baru dan inovasi pembelajaran zaman. Open heart (keterbukaan hati), memahami sebelum menilai, menempatkan empati sebagai fondasi kepemimpinan. Serta, open will (keterbukaan kehendak), keberanian bersama untuk meninggalkan zona nyaman dan bergerak menuju perbaikan.
Filosofinya sederhana: sebelum mengubah sekolah, kita harus memanusiakan manusia yang ada di dalamnya. Manusia tidak ditempatkan sebagai objek perubahan, tetapi sebagai subjek yang memiliki potensi untuk berubah dan bertumbuh.
Hasilnya nyata. Budaya disiplin di SMPN 1 Sugio bergeser dari rasa takut akan hukuman menjadi kesadaran kolektif. Dari pola hubungan instruktif menuju kepercayaan, mengubah jargon birokratis “ini tugas dari kepala sekolah” menjadi “ini sekolah kita.”
Jejak Panjang Sang Pendidik Tangguh
Jauh sebelum menakhodai sekolah, rekam jejak Bu Wafi di dunia pendidikan adalah sebuah maraton dedikasi. Deretan trofi prestisius menghiasi lemarinya: Juara 1 OSN Guru IPA (2014), juara II guru inovatif (2016), presenter terbaik nasional (2018), juara 1 guru berprestasi Kabupaten Lamongan (2019), PWI Award Kategori Guru Inspiratif (2020), hingga Kepala Sekolah Inovatif dan Berprestasi (2025).
Meski sibuk memimpin sekolah dan mengurus keluarga, produktivitas akademisnya tak pernah surut. Buku solo berjudul Terbang Tinggi Tanpa Sayap, puluhan buku antologi, hingga artikel ilmiah internasional terbarunya—The Influence of Mathematical Problem-Solving and Critical Thinking Skills through Project-Based Flipped Classroom and Self-Regulated Learning—membuktikan kapasitasnya sebagai akademisi sejati.
Berkelindan di Organisasi dan Aksi Nyata
Kiprah perempuan kelahiran Rembang ini melompati batas pagar sekolah. Dia sering menjadi narasumber nasional di bidang kurikulum dalam program sekolah penggerak dan program organisasi penggerak, serta aktif menjadi Fasilitator Pembelajaran Mendalam.
Di organisasi tingkat nasional, Bu Wafi pernah dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan pengurus inti di berbagai komunitas literasi seperti sekretaris Pusat Komunitas Sahabat Pena Kita, Dewan Kehormatan Pusat Ikatan Guru Mapel Kimia, dan Tim Editor di Komunitas Literasi Nasional “Lentera”.
Di tingkat lokal, Bu Wafi aktif sebagai Pengurus PC Fatayat NU Babat, Koordinator Bidang Peningkatan SDM MKKS SMPN Kabupaten Lamongan, dan motor penggerak Komunitas Yuk Menulis.
Bagi Wafi, penghargaan dari Jawa Pos Radar Bojonegoro bukanlah garis akhir, melainkan pengingat untuk terus menyalakan obor perubahan. Dari Sugio, dirinya membuktikan bahwa ketulusan, literasi, dan kepemimpinan dengan hati mampu merajut masa depan pendidikan yang lebih bermartabat. (*)
Editor : Arya Nata Kesuma