LAMONGAN, Radarlamongan.co - Tahun 2024 menjadi tahun keberuntungan Musrifah Medkom, seorang penulis asli Lamongan. Karena karyanya berupa dua naskah cerita anak lolos di Balai Bahasa Jawa Timur.
Sedangkan, satu naskah cerita anak lolos di Balai Bahasa Lampung, serta satu karya lagi lolos di Balai Bahasa Gorontalo. Kemudian ada tiga naskah cerita anak (cernak), novel, dan komik yang lolos di gerakan literasi nasional yang diselenggarakan Kemendikbud.
Dosen ilmu komunikasi, jurnalistik, dan media massa di IAI Tarbiyatul Tholabah Lamongan ini juga berhasil menulis tiga buku cerita anak dalam satu tahun.
Puncaknya, Musrifah terpilih sebagai juara harapan dalam ajang penulisan komik internasional. Yakni international cartoon-people of ASEAN and China Relationship. Dan tulisan non-fiksi serta belasan artikel berhasil dimuat dalam jurnal nasional.
Musrifah mengawali karir menulisnya dari bangku SD. Meski tidak mulus, dia cukup konsisten dengan hobi menulis tersebut. Dia belajar secara otodidak dengan membaca karya-karya para master yang lebih dulu berkecimpung di dunia penulisan.
Kebiasaan menulis ini sempat ditinggalkan ketika di bangku kuliah, karena kesibukan belajar dan bekerja untuk membiayai kuliahnya. Sampai akhirnya kebiasaan menulis ini beberapa kali vakum karena menikah dan memiliki anak.
Kemudian minat menulis kembali muncul ketika menempuh S2. Waktu itu dia mulai aktif membaca cerita-cerita teman seperjuangan penulis. Sehingga, dia mulai membangunkan mimpi pena-nya, dan aktif mengikuti kejuaraan menulis.
Sampai akhirnya, dia berhasil membangunkan mimpi menulis itu melalui kontribusinya dalam even nasional. Tahun 2021, dia berhasil meraih the best ten cerpen terbaik versi penerbit Lontara dan sayembara kisah bumi juara VI.
Hingga saat ini, penulis berusia 42 tahun ini sudah menelurkan 25 karya solo, lima antologi, dan 16 jurnal.
Tema-tema yang paling sering diangkat mengenai anak-anak, kekayaan lokalitas, komunikasi, dan media massa. Kalau kreativitas, Musrifah mengaku banyak datang dari anak-anaknya.
Dia suka membaca buku mereka, dan kebetulan dia juga mengelola rumah baca sendiri yang terbuka untuk umum. Koleksinya juga sudah ribuan dan bisa menjadi penambah inspirasi.
‘’Kadang inspirasi juga muncul ketika sedang bepergian dengan keluarga, atau melihat drama film pendek yang menjadi inspirasinya,” terang peraih Sertifikasi Penulis Non-Fiksi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) Tahun 2021 ini.
Bahkan, dia terbilang pegiat literasi di wilayah utara. Selain membuka taman baca di rumah secara umum, dia juga aktif menggelar lapak buku di halaman salah satu masjid di Paciran.
Musrifah juga aktif mengajak anak-anak sekitar untuk belajar menulis. Karena dengan tulisan, seseorang akan dikenal luas dan bermanfaat.
‘’Harapannya karya-karya yang dihasilkan ini bisa mematik minat generasi muda dalam dunia literasi,’’ ucapnya. (rka/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta