LAMONGAN, Radarlamongan.co - Jumlah pekerja migran Indonesia (PMI) mengalami penurunan. Tahun 2023, jumlah PMI mencapai 1.338 orang. Sedangkan tahun lalu, jumlah PMI hanya 493 orang.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Lamongan, M. Zamroni mengatakan, alasan turunnya jumlah PMI karena ada regulasi dari beberapa Negara, terutama di Malaysia.
Padahal, selama ini penempatan terbesar PMI asal Lamongan di Negeri Jiran.
‘’Karena ada penertiban, di sana ada pembatasan, akhirnya Tahun 2024 mengalami penurunan, sehingga banyak yang tidak berangkat PMI di Malaysia,’’ terang Zamroni kepada Jawa Pos Radar Lamongan.
Berdasarkan data, tiga pekerjaan paling diminati PMI asal Lamongan, yakni bidang konstruksi sebanyak 280 orang, industri pengolahan sekitar 98 orang, dan pembantu rumah tangga sebanyak 36 orang.
Zamroni mengakui di Malaysia banyak lowongan pekerjaan bidang konstruksi, diantaranya pembangunan gedung dan jembatan. Berdasarkan pantauannya, banyak PMI yang sukses di Malaysia.
Bahkan, ada yang menjadi mandor hingga memiliki CV sendiri. Banyak yang melirik bidang konstuksi, karena rerata hanya membutuhkan lulusan SMA. Namun, ada beberapa sarjana yang juga berangkat menjadi PMI.
‘’Sedangkan, di Arab Saudi kita berangkatkan rerata perawat, sesuai skill masing-masing,’’ ujarnya.
Zamroni mengimbau para PMI melaporkan jika sudah bekerja di luar negeri.
Sebab, ada aturan pelaporan khsusus. Sehingga, diakuinya, ketika terjadi apapun di tempat kerja, maka bisa tahu perkembangnnya.
‘’Agar pekerja migran benar-benar berangkat secara resmi, kalau ada hal yang tidak diinginkan bisa tertangani,’’ imbuhnya.
Dia meminta warga Lamongan yang ingin menjadi PMI di luar negeri, harus dengan keahlian khusus. Misalnya dalam bidang kontruksi, ahli dalam perencanaan.
‘’Ada keahlian khusus, menjadi pembeda dengan karyawan lainnya,’’ tutur Zamroni. (sip/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta