LAMONGAN, Radarlamongan.co - Sebuah tangga kuno dengan belasan anak tangga, menjadi jalan masuk menuju Masjid Sendang Duwur. Masjid ini merupakan peninggalan Mbah Sendang Duwur atau Raden Noer Rahmad.
Berdiri sekitar Tahun 1561 di atas Bukit Aminuton di Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran. Sehingga, terdapat sejarah panjang di balik bangunan masjid berukuran 15 meter x15 meter ini.
Masyarakat sekitar juga menyebutnya sebagai Masjid Tiban, karena dikisahkan muncul seketika pada waktu subuh. Irfan Mashuri, 35, juru kunci Makam Sunan Sendang Duwur menjelaskan, saat awal Ramadan tentunya hanya kegiatan rutin buka bersama dan pembagian takjil.
Menurut dia, pengunjung di Masjid maupun Makam Sendang Duwur mulai ramai mulai malam 21. ‘’Kalau di atas puasa lebih dari 20 hari (sepuluh hari terakhir Ramadan) banyak yang melakukan itikaf di dalam Masjid,’’ ujarnya.
Menurut dia, salah satu tradisi peninggalan Mbah Sunan Sendang Duwur yakni pada malam 27 dilaksanakan khataman Alquran.
Dilanjutkan pada malam hari syrakalan, yakni pembacaan maulid diba’ yang melantunkan syair pujian kepada Allah dan rasulnya.
‘’Jadi semua ini adalah peninggalan dari Mbah Sunan Sendang Duwur yang telah diajarkan dari dulu, dan sampai sekarang masih dilestarikan,’’ bebernya. (mal/ind)
Editor : Anjar D. Pradipta