radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Hamparan tambak garam tradisional di wilayah pantura Lamongan saat ini memasuki masa panen raya.
Sayangnya, senyum para petambak tidak bisa mengembang sempurna.
Seiring melimpahnya produksi yang diprediksi mencapai puncaknya hingga Oktober nanti, hukum pasar berlaku: pasokan melonjak, harga jual di tingkat petambak berangsur merosot.
Baca Juga: Cuaca Terik, Harga Garam Terjun Bebas
Shodiqin, petambak garam, mengaku, Rabu (15/7) harga masih Rp 1.300 per kilogram (kg), kemarin turun menjadi Rp 1.100 per kg.
Menurut dia, harga garam cenderung rendah tahun ini. Meski intensitas hujan tinggi tahun lalu, harga bisa menyentuh Rp 2.500 per kg. Itu terjadi karema produksi di lapangan minim.
Hingga kini, petambak garam tradisional belum bisa menembus pasar industri.
Baca Juga: Pergantian Musim, Produksi Petani Garam di Kecamatan Brondong Lamongan Turun
Kondisi itu berbeda dibandingkan petambak modern atau prisma. Mereka bisa masuk industri karena produksinya setiap bulan. Harganya menjadi lebih tinggi.
“Kita alatnya masih manual, jadi belum bisa masuk pasar industri seperti garam prisma,” ujarnya.
Shodiqin menjelaskan, produksi garam manual maksimal empat bulan selama satu tahun. Jika cuaca panas, maka biasanya produksinya tinggi. Namun, harganya cenderung lebih murah karena produksi melimpah.
“Petani terus meningkatkan pemahamannya untuk meningkatkan kualitas dan produksi garam,” tuturnya.
Shodiqin berharap selama panen raya ini harga garam bisa naik. Sehingga petani bisa lebih bersemangat mempersiapkan lahan untuk musim berikutnya. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma