radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Harga garam saat ini terjun bebas. Jika harga panen tahun lalu menembus Rp 2.500 per kilogram (kg), maka saat ini harganya hanya Rp 1.700 per kg.
Shodiqin, salah satu petani garam asal Brondong, mengatakan, lesunya harga ini dipicu oleh kepanikan petani yang tergesa-gesa melepas stok menjelang kemarau.
Sementara serapan pasar masih minim. Tahun lalu, produksi petani memang merosot akibat musim hujan yang panjang.
Baca Juga: Perbaikan Jalan Lingkungan di Lamongan, Masuk Proses Survei Lapangan
Kini, saat cuaca mulai memanas, nilai jual justru tidak berpihak.
“Harga saat panen tahun lalu sebenarnya tinggi tapi produksi turun,”jelasnya.
Para petani hanya bisa berharap pada anomali cuaca di April - Mei agar harga kembali terkerek naik sebelum panen raya dimulai pada pertengahan Juli mendatang.
“Sekarang masih persiapan lahan, pertengahan Juli sudah bisa panen, karena kita masih manual,” terangnya.
Shodiqin menuturkan, petani garam sekitarnya banyak yang manual karena alat untuk garam prisma dinilai masih mahal.
Konsekuensinya, masa panen petani manual singkat, Juli sampai Oktober.
Jika musim kemarau pendek, maka produktivitas yang biasanya mencapai 130 ton per musim, dipastikan akan anjlok.
Selain itu, petani juga berharap banyak tangkapan nelayan di sekitar Brondong. Mereka biasanya membutuhkan garam. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma