Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Cuaca Buruk, Mayoritas Nelayan di Pantura Lamongan Mandek Melaut

Ahmad Asif Alafi • Senin, 19 Januari 2026 | 13:53 WIB
SIKLUS TAHUNAN: Suasana perahu nelayan terparkir di salah satu titik bibir laut Kecamatan Paciran saat cuaca buruk menyelimuti.
SIKLUS TAHUNAN: Suasana perahu nelayan terparkir di salah satu titik bibir laut Kecamatan Paciran saat cuaca buruk menyelimuti.

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO - Nelayan di pesisir utara Lamongan mengeluhkan cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Angin kencang, gelombang tinggi, serta arus laut yang deras memaksa sebagian besar nelayan memilih bertahan di darat.

Sekretaris Dinas Perikanan Lamongan Margono Jaya Putra mendapatkan informasi banyak nelayan berhenti melaut karena cuaca buruk saat meninjau tempat pelelangan ikan (TPI).

‘’Saya tanya sepi Januari sampai februari. Rata-rata nelayan yang saya konfirmasi mengaku tidak berani melaut. Kalau kapal kondisinya tidak sehat, dikhawatirkan pecah di tengah ombak. Angin di laut juga sangat kencang,” terangnya.

Margono menuturkan, hanya satu hingga dua kapal yang berani melaut. Akibatnya, kondisi TPI terlihat lengang. Cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung hingga Februari dengan gelombang laut yang cukup besar.

Meski demikian, diakuinya, produksi perikanan tangkap di Kabupaten Lamongan tahun lalu tercatat tetap melampaui target. Berdasarkan data Dinas Perikanan Lamongan, realisasi produksi perikanan tangkap mencapai 79.685,22 ton, melampaui target 78.814 ton.

Dengan capaian tersebut, Margono optimistis target produksi perikanan tangkap tahun ini dapat tercapai. Namun, ia mengatakan, capaian produksi tidak bisa dipaksakan.

‘’Namanya target dan realisasi tidak bisa dipaksakan, karena kejadian alam yang tidak bisa diduga,” imbuhnya.

Dia berharap ke depan cuaca semakin bersahabat agar hasil tangkapan nelayan meningkat. ‘’Karena dua tahun terakhir ini kan cuaca yang berdampak pada hasil tangkap nelayan,’’ ucapnya.

Keluhan juga disampaikan Ketua RN Blimbing Nur Wahid yang menyatakan, seluruh nelayan di wilayahnya juga memilih libur melaut akibat musim angin barat. Kondisi angin kencang, ombak besar, dan arus deras sudah berlangsung sejak pertengahan bulan lalu.

‘’Perkiraan paling cepat melaut lagi awal Februari atau pertengahan Februari,” katanya. ‘’Paling tidak pemerintah bisa memberikan bantuan untuk meringankan beban nelayan yang tidak melaut berbulan-bulan ini,’’ ucapnya.

Sementara itu, Mugiyanto, salah satu nelayan di Brondong mengungkapkan, hampir seluruh nelayan memilih tidak melaut karena kondisi cuaca yang membahayakan. Banyak para nelayan mengeluh tidak bisa melaut.

‘’Angin kencang bisa mencapai 26 knot di perairan Bawean dan Masalembu. Ombak besar disertai petir. Musim ini memang tidak ada yang melaut. Ini paceklik, musim baratan banyak nganggur,” ungkapnya. ‘’Menurut BMKG kurang lebih minggu depan Insya Allah bisa mereda, cuaca agak mengurang,’’ sambungnya.

Ia menjelaskan bahwa sudah hampir 20 hari libur melaut. Mugiyanto berharap ada perhatian dari pemerintah karena nelayan membutuhkan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. ‘’Nunggu kesejahteraan dari pemerintah setempat,” pungkasnya. (sip/ind)

Editor : Anjar D. Pradipta
#pantura #nelayan #lamongan #angin barat #cuaca buruk