radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Jalur alternatif Alas Roban, Kabupaten Batang, cukup terjal.
Di dekat pemakaman umum Dusun Bunderan, Desa Plelen, Kecamatan Gringsing, seorang pemuda tampak duduk di pinggir jalan raya tersebut, sambil menata enam botol kecil berisi BBM jenis Pertalite.
tikungan hutan Alas Roban itu menjadi tempat bertahan hidup Agung, 25 tahun, perantau asal Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan.
Tidak ada bangunan semipermanen. Hanya ada potongan kayu yang dijadikan kursi memanjang. Selembar plastik dijadikan Agung sebagai alas tidur. Jemuran untuk sarung dan pakaiannya dibuat dengan mengikatkan tali ke antarpohon.
Area yang sepi itu justru dianggap Agung sebagai tempat yang memberikan ketenangan baginya saat ini.
Bila hujan turun deras, maka dia bisa menjadikan area pemakaman sebagai tempat berteduh.
‘’Daripada basah kuyup,’’ ujarnya sambil menunjukkan plastik lusuh yang selama ini dijadikan alas tidur.
Sudah satu tahun ini Agung menjalani hidup berkelana.
Konflik keluarga memaksanya meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.
“Tepat bulan November ini genap satu tahun saya pergi dari rumah,” tuturnya lirih, Selasa (18/11) seperti dilansir Radar Semarang.
Agung adalah anak kedua dari lima bersaudara. Dia sempat kuliah di Jurusan Informatika Universitas Jember (Unej).
Namun, Agung harus protol di tengah jalan. Dia drop-out setelah hidupnya porak-poranda. Situasi makin memburuk setelah ayahnya meninggal pada 2018. Agung yang dekat dengan almarhum merasa tak punya rumah lagi.
Agung memutuskan mengembara. Dari Babat, dia pergi ke barat.
Agung menjadi pemulung di Blora. Namun, dia kena tipu hingga HP-nya dibawa kabur. Agung juga pernah ditampung Dinsos Semarang. Saat mengetahui keluarganya mencoba menjemput, dia memilih kabur.
“Saya tidak ingin pulang,” ucapnya, air mata jatuh perlahan.
Meski demikian, Agung mengaku selalu mendoakan ibunya setiap malam.
Sejak kisahnya viral di media sosial, banyak masyarakat datang menunjukkan kepedulian ke tempat Agung berjualan bensin. Ada yang membeli Pertalite tanpa menawar dan tidak meminta kembalian. Ada juga yang memberikan nasi bungkus. “Saya sangat bersyukur, mereka baik sekali,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Botol - botol kecil Pertalite itulah sumber kehidupannya saat ini. Satu botol berisi setengah liter dijualnya seharga Rp 7.000. Dia kulakan dari pengecer, karena SPBU melarang pembelian dengan jerigen. Setiap hari ia hanya menjual lima botol, kadang tidak habis sama sekali.
Selain bensin, Agung juga menjual masker eceran untuk menambah pemasukan. “Yang penting bisa makan,” katanya pasrah, tapi tetap tersenyum.
Meski hidupnya penuh cobaan, Agung tidak pernah kehilangan harapan. Dia ingin berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Hidup bisa terus berjalan selama dia tidak menyerah. (*)
Editor : Arya Nata Kesuma