Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem, Siklon Tropis Bisa Muncul Awal 2026

Anjar Dwi Pradipta • Rabu, 5 November 2025 | 18:40 WIB
BMKG meminta masyarakat untuk mewaspadai fenomena La Nina dan Badai Seroja yang diprediksi akan melanda beberapa wilayah di Indonesia.
BMKG meminta masyarakat untuk mewaspadai fenomena La Nina dan Badai Seroja yang diprediksi akan melanda beberapa wilayah di Indonesia.

RADARLAMONGAN.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi perubahan cuaca ekstrem pada akhir 2025 hingga awal 2026.

Fenomena La Nina lemah diperkirakan akan muncul bersamaan dengan meningkatnya aktivitas siklon tropis, mirip peristiwa Badai Seroja yang sempat melanda Nusa Tenggara Timur pada 2021.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, kemunculan La Nina lemah tidak serta-merta membuat seluruh wilayah Indonesia diguyur hujan ekstrem.

Menurutnya, curah hujan secara umum masih dalam kategori normal, namun di beberapa wilayah bisa meningkat akibat suhu muka laut yang lebih hangat.

“Bukan berarti curah hujan akan meningkat signifikan. Di sebagian wilayah memang berpotensi lebih tinggi karena suhu permukaan laut yang menghangat,” ujarnya.

Meski demikian, Dwikorita menegaskan masyarakat tetap perlu waspada. Sebab, selain pengaruh La Nina, BMKG juga mencatat potensi terbentuknya siklon tropis di perairan selatan Indonesia.

“Fenomena seperti Badai Seroja kemungkinan meningkat frekuensinya mulai November 2025 hingga Maret 2026, bahkan bisa berlanjut sampai April,” katanya.

BMKG memprediksi wilayah yang berisiko tinggi terdampak cuaca ekstrem antara lain pesisir selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Maluku bagian selatan.

Daerah-daerah tersebut berpotensi mengalami hujan deras, banjir, tanah longsor, serta gelombang laut tinggi yang dapat mengganggu aktivitas pelayaran dan perikanan.

Selain itu, curah hujan tinggi juga bisa berdampak pada sektor pertanian, seperti gagal panen akibat kelebihan air dan meningkatnya serangan hama.

Tak hanya itu, musim hujan yang lebih panjang juga meningkatkan risiko penyakit seperti demam berdarah, leptospirosis, dan ISPA. Karena itu, masyarakat diimbau tetap menjaga kebersihan lingkungan dan memperhatikan saluran air di sekitar tempat tinggal.

BMKG meminta masyarakat tidak panik, tetapi meningkatkan kewaspadaan. “Yang paling penting adalah kesiapsiagaan. Dengan memperhatikan peringatan dini cuaca dan menjaga lingkungan, dampak cuaca ekstrem bisa diminimalkan,” tutur Dwikorita.

Nelayan diminta memantau peringatan gelombang tinggi sebelum melaut, sedangkan petani disarankan menyesuaikan pola tanam agar tidak terganggu curah hujan tinggi. Pemerintah daerah diharapkan aktif memantau kondisi wilayah rawan banjir dan longsor serta menyiapkan langkah mitigasi dini.

Musim hujan 2025–2026 diprediksi akan menjadi periode basah namun dinamis, dengan kombinasi faktor lokal dan global yang memengaruhi pola cuaca. Meski La Nina yang muncul tergolong lemah, potensi siklon tropis tetap menjadikan musim penghujan mendatang periode yang patut diwaspadai. (jar)

Editor : Anjar D. Pradipta
#bmkg #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #Badai Seroja #cuaca ekstrem #la nina