radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Dunia pertanian menghadapi perubahan tantangan yang semakin kompleks.
Jika selama ini persoalan utama yang menjadi perhatian berkisar pada budidaya, serangan hama dan penyakit, serta persoalan pascapanen dan pemasaran, kini perubahan iklim ekstrem muncul sebagai tantangan baru yang menuntut penanganan serius.
Perubahan pola musim, kemarau yang lebih panjang, curah hujan yang tidak menentu, kekeringan, hingga banjir tidak hanya memengaruhi aktivitas petani.
Baca Juga: Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan Genjot Serapan Tebu Lokal
Fenomena tersebut juga berpotensi mengganggu produksi pangan dan ketahanan ekonomi sektor pertanian.
Kondisi itu membuat kebutuhan sumber daya manusia di bidang pertanian ikut berubah.
Dunia pertanian tidak lagi cukup hanya membutuhkan tenaga ahli budidaya, perlindungan tanaman, maupun pascapanen dan pemasaran.
Baca Juga: Kunjungan Wakil Menteri Pertanian Jadi Motivasi Swasembada Pangan di Kabupaten Lamongan
Pertanian saat ini juga membutuhkan tenaga ahli yang memiliki kemampuan memahami risiko iklim serta menyusun strategi adaptasi dan mitigasi.
Ilmu tersebut sangat dibutuhkan para petani saat ini agar terhindar dari gagal panen akibat sering terjadinya anomali cuaca yang ekstrem saat ini.
“Di tengah perubahan iklim yang sangat ekstrem saat ini, dunia pertanian sangat membutuhkan tenaga mitigasi iklim,” kata Sekretaris Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lamongan, Bakhrudin Zuhri.
Kebutuhan tersebut semakin relevan bagi Lamongan yang selama ini menjadi salah satu daerah lumbung pangan. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Lamongan menunjukkan, luas panen padi pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 153,38 ribu hektare. Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling mencapai sekitar 904,93 ribu ton atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk diperkirakan mencapai 522,52 ribu ton.
Besarnya produksi tersebut sekaligus menunjukkan tingginya kepentingan menjaga sektor pertanian Lamongan dari risiko gangguan iklim. Sebab, perubahan iklim dapat mengubah pola yang selama ini menjadi dasar petani dalam menentukan waktu tanam.
Tantangan itu semakin nyata pada 2026. BMKG sebelumnya memprakirakan sebagian besar wilayah Lamongan mengalami kondisi musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Curah hujan pada periode Mei hingga September diprakirakan berada pada kategori rendah, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Risiko tersebut bukan sekadar prakiraan. Hingga akhir Agustus 2026, Kementerian Pertanian melaporkan sekitar 3.450 hektare lahan padi di tujuh kecamatan di Lamongan terdampak kekeringan. Sebagian besar lahan berhasil dialiri kembali melalui pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi, tetapi kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa ancaman iklim dapat langsung memengaruhi proses produksi pertanian.
Di sinilah kebutuhan tenaga ahli mitigasi dan adaptasi iklim menjadi semakin penting. Tenaga tersebut tidak hanya dituntut memahami fenomena cuaca, tetapi juga mampu menerjemahkan informasi iklim menjadi rekomendasi praktis bagi petani.
Misalnya, menentukan pola dan kalender tanam yang lebih adaptif, memetakan wilayah rawan kekeringan dan banjir, memperkirakan kebutuhan air tanaman, hingga merekomendasikan penggunaan varietas yang lebih tahan terhadap kondisi ekstrem.
Perubahan iklim juga dapat memengaruhi perkembangan hama dan penyakit tanaman. Perubahan suhu, kelembapan, dan pola hujan berpotensi mengubah siklus hidup serta persebaran organisme pengganggu tanaman. Karena itu, tenaga perlindungan tanaman ke depan juga perlu semakin terintegrasi dengan pengetahuan tentang iklim.
Pemerintah Kabupaten Lamongan sendiri telah memperkuat sejumlah langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau 2026, antara lain optimalisasi jaringan irigasi, pompanisasi, waduk, normalisasi sungai, pemetaan wilayah rawan kekeringan, serta penguatan sistem peringatan dini.
Namun, pembangunan infrastruktur saja tidak cukup. Tantangan terbesar adalah memastikan tersedianya sumber daya manusia yang mampu mengelola informasi, teknologi, dan risiko perubahan iklim secara terpadu.
Pertanian masa depan membutuhkan generasi baru tenaga ahli. Mereka tidak hanya harus mampu meningkatkan produktivitas tanaman, tetapi juga membaca perubahan cuaca, menghitung risiko, mengelola sumber daya air, dan membantu petani mengambil keputusan yang tepat.
Perubahan iklim pada akhirnya telah menambah satu dimensi baru dalam persoalan pertanian. Jika sebelumnya keberhasilan pertanian banyak ditentukan oleh kemampuan mengelola tanah, tanaman, hama, dan pasar, kini kemampuan membaca dan beradaptasi terhadap perubahan iklim juga menjadi penentu.
Bagi daerah produsen pangan seperti Lamongan, menyiapkan tenaga ahli mitigasi iklim bukan lagi sekadar kebutuhan akademik. Hal tersebut menjadi bagian penting dari strategi menjaga produksi pangan agar tetap bertahan di tengah iklim yang semakin sulit diprediksi. (Feb)
Editor : Arya Nata Kesuma