Berikut Tips dari Peternak Asal Lamongan Menjaga Lidah Ayam Cemani Tetap Hitam, agar Nilai Jualnya Lebih Tinggi

Ahmad Asif Alafi • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 20:21 WIB
Arif Purnawan menunjukkan salah satu ayam cemani di peternakan miliknya di Kelurahan Tumenggungan. (AHMAD ASIP/RADAR LAMONGAN)
Arif Purnawan menunjukkan salah satu ayam cemani di peternakan miliknya di Kelurahan Tumenggungan. (AHMAD ASIP/RADAR LAMONGAN)

LAMONGAN, RADARLAMONGAN.CO – Ayam cemani dikenal sebagai ayam yang memiliki ciri khas warna hitam pekat hampir di seluruh tubuhnya.

Keunikan tersebut membuat ayam ini banyak diburu, baik sebagai ayam hias, kebutuhan tradisi, hingga koleksi.

Potensi itulah yang dilirik Arif Purnawan, peternak asal Jalan Sunan Giri Nomor 49, Kelurahan Tumenggungan, Kecamatan/Kabupaten Lamongan, yang mengembangkan usaha di Golden Embrio Cemani Farm. 

Baca Juga: Latihan Cross Country, Ketahanan Fisik Tiga Legiun Asing di Bawah Pemain Lokal Senior Persela Lamongan

Di kandangnya, puluhan ayam cemani dipelihara dengan berbagai varian. Selain itu, terdapat dua ekor ayam Indio Gigante yang turut menjadi koleksi.

Peternak Ayama Cemani Arif Purnawan mengatakan mulai menekuni budidaya ayam cemani sejak Januari 2024, setelah sebelumnya mendapat kiriman video mengenai keunikan ayam tersebut.

‘’Awalnya saya belajar dulu tentang ayam cemani dan mencari tahu kelebihannya. Setelah merasa yakin, saya membeli indukan dari Mas Ardi peternak di Brondong,’’ ujarnya.

Menurut Arif, minimnya peternak ayam cemani di Lamongan menjadi alasan utama dirinya menekuni usaha tersebut. Padahal, permintaan pasar tergolong tinggi.

Baca Juga: Inovasi Hartutik: Padukan Permainan Tradisional dan IT untuk Pembelajaran Anak di Kabupaten Lamongan

Ayam cemani banyak dicari sebagai ayam hias, kebutuhan tradisi pencak silat, hingga dipercaya sebagian masyarakat untuk keperluan pengobatan tradisional.

‘’Di Lamongan yang beternak belum banyak, sementara yang mencari cukup banyak. Itu yang membuat saya semangat mengembangkan peternakan ayam cemani,’’ katanya.

Arif mengungkapkan, saat ini dia memelihara sekitar 20 ekor ayam cemani berbagai usia. Sebelumnya, jumlah ternaknya pernah mencapai 100 ekor, namun seluruhnya habis terjual.

Dia juga memiliki sejumlah koleksi ayam cemani, Diantaranya ayam cemani lidah hitam, ayam cemani lidah abu-abu, kemudian ada ayam cemani yang tergolong langka.

Ayam cemani berjari sepuluh, ayam cemani bulu walik, hingga ayam cemani rajekwesi yang memiliki bulu menyerupai lidi.

Perbedaan karakteristik tersebut turut memengaruhi harga jual. Contohnya Anak ayam cemani berusia satu bulan dengan lidah hitam dibanderol sekitar Rp 200 ribu - 250 ribu per ekor, sedangkan lidah abu-abu berkisar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu per ekor.

Baca Juga: Kisah Pelatih Kiper Persela Lamongan Wahyudi, Jaga Karir di Dunia Sepak Bola dan Usaha Kuliner

Perawatan ayam cemani, lanjut Arif, membutuhkan perhatian khusus. Selain pakan pabrikan, dia memberikan tambahan beras ketan hitam untuk menjaga warna lidah tetap hitam, terutama hingga usia dua bulan.

‘’Kemudian untuk menjaga lidahnya tetap hitam itu kita kasih beras ketan hitam sesakali, paling tidak kalau satu hari makan 2-3 kali, satu kalinya kita tambahi beras ketan hitam, itu menajdikan harga ayam cemani agak mahal karena perawatan awal,’’ katanya.

Pemberian pakan beras ketan hitam hingga sekitar dua bulan. Jika sudah besar di atas dua bulan dan ayam itu sudah trah lidah hitam, maka lidahnya tetap hitam hingga besar.

‘’Sebelum dua bulan kita kasih beras ketan hitam biar lidah tetap terjaga hitam, karena banyak ayam cemani, kecilnya lidah hitam sudah besar jadi lidah abu-abu. Ketika di-treatmen dengan beras ketan hitam itu masih bisa bertahan hitam terus,’’ katanya.

Tak hanya itu, kebersihan kandang juga menjadi perhatian. Arif memanfaatkan campuran EM4 dan sari tebu yang disemprotkan ke alas kandang berbahan sekam dan kohe, agar kotoran tidak menimbulkan bau menyengat.

Di sisi lain, Arif meluruskan sejumlah mitos yang beredar mengenai ayam cemani. Salah satunya anggapan bahwa ayam cemani bertelur hitam atau memiliki darah hitam.

‘’Telurnya sama seperti ayam kampung, warnanya biasa. Darahnya juga tetap merah,’’ katanya.

Menurutnya, ayam cemani memang memiliki nilai ekonomi tinggi karena keunikan genetik dan perawatannya yang tidak mudah.

Dengan peluang pasar yang masih terbuka lebar, dia optimistis budidaya ayam cemani akan terus berkembang di Lamongan. (sip/ind)

Editor : Indra Gunawan
ayam hias