radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Di tengah deru mesin dan kepulan debu kendaraan yang bergegas, sebuah bangunan megah berkelir hijau terlihat mencolok.
Letaknya yang sedikit menepi dari bibir jalan provinsi Lamongan - Mojokerto, memberi ruang lapang bagi para musafir untuk melabuhkan kendaraan.
Bangunan dua lantai itu, seolah menawarkan pelukan sejuk bagi raga yang mulai didera letih. Itulah Masjid Besar Baitul Amin, Kecamatan Mantup.
Wakil Ketua Takmir Masjid Besar Baitul Amin, H Panji, mengatakan, masjid setempat dikenal ramah pemudik.
Selain lokasinya yang strategis karena dekat jalan raya provinsi, juga memiliki halaman luas.
Pemudik bisa sekedar beristirahat dan memarkir kendaraannya di halaman masjid.
Para pengelana yang sekadar ingin meluruskan kaki dan mengendurkan otot pundak, tak perlu khawatir akan mengganggu kekhusyukan jamaah lain.
Dengan kapasitas mencapai 3 ribu jamaah dan bisa ditambah hingga 5 ribu jamaah saat momentum lebaran, Baitul Amin adalah ruang lapang yang tak pernah merasa sesak meski renovasi kecil masih terus menyulam sudut - sudutnya.
“Proses perbaikan terus dilakukan, tapi tetap masih bisa digunakan beribadah,” ujarnya.
Baitul Amin bukan sekadar beton dan cat hijau yang mencolok mata. Bangunan ini adalah ingatan yang mengakar di Kecamatan Mantup.
Sebagai masjid tertua di wilayah tersebut, Baitul Amin menyimpan narasi spiritual lintas generasi.
Panji tak mampu merapal angka pasti kapan batu pertama diletakkan. Namun, dalam ingatan kolektif warga, inilah tempat satu - satunya di mana salat Jumat dilaksanakan di masa lalu.
Panji hanya mengingat, di masa kecilnya, masjid tersebut sudah ramai jamaahnya. Bahkan awal puasa selalu kedatangan dai dari luar kota untuk mengisi kajian.
Tahun ini, ada dai dari Kemenag RI dan Kemenag Jawa Timur yang sudah mengisi kajian di masjid tersebut.
Masjid ini memang sering melaksanakan kajian selama bulan puasa. Selain itu, ada tarawih, tadarus, dan qiyamul lail di sepuluh hari terakhir Ramadan. Ngaji bareng setelah salat ashar juga rutin digelar.
“Sekarang mulai kita tambah takjil dan menu buka puasanya untuk pemudik,” terangnya.
Bagi Baitul Amin, keindahan bukan hanya soal arsitektur yang megah. Melainkan, tentang seberapa hangat pintu dibuka bagi mereka yang ingin tetap beribadah di tengah lelahnya perjalanan. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma