radarlamongan.co - jawaposradarlamongan — Di tepian jalan Desa Gempolpading, Kecamatan Pucuk, Masjid Al-Hidayah tak sekadar menjadi menara bisu yang memanggil umat untuk bersujud.
Di Al-Hidayah, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar yang kemudian tuntas oleh sepiring takjil.
Lebih dari itu, masjid ini sedang menjamu dahaga jiwa yang lain: dahaga akan ilmu.
Pada sepuluh malam terakhir, atmosfer di Al-Hidayah kian pekat oleh khusyuk.
Pukul 02.00, saat sebagian orang masih terlelap dalam selimut mimpi, jamaah sudah terjaga.
Mereka merajut doa dalam salat malam, berlanjut hingga sahur bersama yang hangat, dan memuncaki rindu pada Sang Khalik lewat salat subuh berjamaah.
M Zuhdi Mukromin, wakil ketua takmir bidang imaroh Masjid Al — Hidayah menjelaskan, masjidnya telah dikenal ramah literasi.
Pojok buku dan area kafein disediakan bagi para jamaah. Langkah ini diambil untuk meningkatkan antusiasme warga, terutama generasi muda.
"Agar lebih betah berlama - lama di lingkungan masjid setelah menunaikan ibadah," tuturnya.
Di sudut utara masjid, Pojok Buku berdiri. Deretan literatur mulai dari sejarah islam, kitab — kitab lama, hingga buku - buku umum disediakan untuk membuka jendela logika.
Jamaah yang menunggu waktu berbuka atau setelah salat subuh, dapat mengisi waktunya dengan membaca sumber informasi tersebut.
Di tengah gempuran distraksi digital, Al-Hidayah mencoba menarik generasi muda kembali ke "pelukan" rumah Tuhan. Dengan menghadirkan literasi, masjid bertransformasi menjadi oase intelektual.
Tak jauh dari rak buku, aroma maskulin kopi menyeruak. Itulah area kafein. Sebuah ruang interaksi sosial di mana kopi dan teh hangat tersedia bagi siapa saja. Tak ada banderol harga yang kaku; semuanya berbasis infak sukarela.
Di sinilah, silaturahmi warga Gempolpading dirawat. Sambil menyesap kopi, mereka berdiskusi, bertukar pikiran, dan memperdalam ilmu dalam suasana yang cair.
"Kami ingin masjid tidak hanya menjadi tempat salat, tapi juga pusat kegiatan masyarakat yang nyaman. Jamaah bisa berdiskusi hal - hal positif sambil memperdalam ilmu," tutur Zuhdi.
Di Al-Hidayah, agama tidak tampil dengan wajah yang kaku. Namun, dengan aroma kopi yang menenangkan dan lembaran buku yang mencerahkan.
Sebuah pesan kuat dari Pucuk: bahwa jalan menuju Tuhan, bisa ditempuh dengan hati yang tenang dan nalar yang terus diasah (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma