radarlamongan.co - jawaposradarlamongan — Angin berdesir pelan di Dusun Karangpilang, Desa Kedungrejo, Kecamatan Modo.
Sebuah telaga di sana tak pernah lelah memberi kehidupan. Tak jauh dari telaga itu, sebuah bangunan berdiri yang tak sekadar menawarkan atap untuk bersujud. Juga, pelukan sejarah yang merambat dari akar-akar masa silam.
Waktu adalah pemahat yang paling tekun. Meski pemugaran pada 2012 telah menyulap wajahnya menjadi lebih kukuh, Masjid Syekh Hasan Ali yang berdiri 1940 itu, tetap menyimpan rahasia-rahasia lama sebagai peninggalan Majapahit.
Beduk kayu otok yang legendaris itu masih setia di sana, mengeluarkan suara parau yang dalam, seolah memanggil memori kolektif warga tentang kejayaan Majapahit yang jejaknya masih terasa di tanah ini.
Di sisinya, Sendang Arum berkilau tenang, menjadi oase bagi tenggorokan yang dahaga dan jiwa yang gersang.
Untuk memperingati kepergian ulama/wali Allah tersebut, setiap tahun diadakan haul.
Dan, setiap ada acara haul, jamaah datang dari berbagai desa hingga kota tetangga.
"Setiap bada mulud. Bulan Oktober tahun lalu diadakan haul," ujar Heri Sujarwo, panitia pembangunan dan pengurus masjid tersebut.
Jasad Syekh Hasan Ali, ulama yang konon membawa restu Sunan Ampel untuk menyalakan pelita iman di tanah Modo, ada di sebelah barat masjid.
Keberadaan makam inilah yang kemudian mengubah nama Darul Falah, nama awal masjid tersebut, menjadi nama sang syekh, sebuah penghormatan bagi sang pembuka jalan.
"Tadinya memang ada saran untuk diganti, dan aktivitas di masjid cukup banyak kalau hari normal, termasuk mengaji kitab," jelas Heri.
Masjid berkapasitas seribu jemaah ini memiliki halaman parkir yang sangat luas. Bagi para pelintas, mereka tidak hanya bisa beribadah. Juga melepas letih karena terlalu lama memandang aspal jalanan. Masjid ini sering dikira bangunan tak bertuan karena pintunya yang selalu terbuka lebar. Kesan bebas itu adalah keramahan yang tulus bagi siapa saja yang ingin sekadar melepas lelah atau beribadah di tengah perjalanan.
Kegiatan di Masjid Syekh Hasan Ali selama bulan puasa sama dengan masjid — masjid lainnya. Setiap hari ada tarawih, tadarus, dan rutin memberikan santunan bagi yatim piatu.
Selama sepuluh hari menjelang lebaran, diadakan itikaf dan disediakan makanan untuk sahur jamaah. Di sini, kasta sebagai musafir dilebur dalam tegukan takjil dan santap sahur yang disediakan cuma - cuma.
Kini, masjid berkapasitas seribu jemaah itu tegak berdiri sebagai saksi bisu antara modernitas jalan raya dan keheningan spiritual. Di Karangpilang, sejarah tidak sedang diawetkan dalam museum yang kaku, melainkan dihidupkan dalam setiap tarikan napas warga yang masih membasuh muka dengan air dari sendang tua itu. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma