Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Menambatkan Doa di Lambung Al-Kautsar

Ahmad Asif Alafi • Jumat, 13 Maret 2026 | 21:56 WIB

MENYERUPAI KAPAL: Musala Al-Kautsar di Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran dibangun dengan cara urunan para nelayan.
MENYERUPAI KAPAL: Musala Al-Kautsar di Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran dibangun dengan cara urunan para nelayan.

radarlamongan.co - jawaposradarlamongan — Ada rima yang puitis di sana. Seolah ingin menegaskan bahwa ibadah tak harus menjauh dari peluh. Di atas tanah pesisir Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran itu, bangunan menyerupai kapal klothok, kapal yang akrab digunakan nelayan setempat, tampak mencolok.

Bangunan tersebut menjadi mercusuar bagi jiwa-jiwa yang rindu bersujud di tengah kesibukan menambal jaring atau merawat mesin sebelum berjuang membelah ombak di perairan.

Di Jalan Pelabuhan Nelayan Dusun Kandang, bangunan bernama Musala Al-Kautsar itu berdiri tegak.

Kepala Desa Kandangsemangkon Agus Mulyono menjelaskan, Musala Alkaustar berdiri pada 2024. Pembangunannya dilatarbelakangi kebutuhan nelayan akan tempat ibadah yang lebih dekat dengan area pelabuhan. 

“Kalau (sebelumnya) mau salat harus jalan dulu ke kampung, jaraknya sekitar 400 meter dari tambat labuh. Akhirnya kelompok nelayan berinisiatif membangun musala ini secara swadaya, nelayan itu urunan,” ujarnya.

Uang recehan dari hasil melaut dikumpulkan. Niat dipancangkan dan gotong royong menjadi semen yang merekatkan setiap bata.

Nelayan urunan, perlahan tapi pasti, hingga bangunan itu lunas dari sekadar mimpi menjadi kenyataan yang kukuh.

“Nelayan urunan, jadi bertahap. Saya juga ikut memotori dan membantu mencarikan dana talangan sampai akhirnya pembangunannya lunas,” kata Agus.

Dia menuturkan, para nelayan menginginkan musala yang mencerminkan identitas mereka. Ide bentuk kapal klothok kemudian muncul. Nelayan sudah akrab dengan kapal jenis itu dalam kehidupan sehari - hari.

Secara teknis, membangun rumah Tuhan dengan rupa kapal bukanlah perkara mudah. Konstruksinya tembok dan cor agar lebih kuat dan bertahan untuk jangka panjang.

Tantangan terberatnya, memberikan ilusi seolah-olah rumah ibadah ini sedang mengapung tenang di atas air. Catnya pun dipilih dengan saksama, agar pantas bersanding dengan kapal-kapal asli yang tertambat di sekitarnya.

“Karena nelayan sehari - hari bekerja dengan kapal klothok, mereka ingin musala ini diminiaturkan seperti kapal itu. Desainnya dibuat menyerupai kapal, mulai dari bentuk hingga menata cat supaya lebih pantas dan mirip,” jelas Agus.

Musala itu digunakan kebutuhan ibadah sehari - hari para nelayan. Ketika tidak melaut, mereka biasanya berada di pelabuhan untuk merawat kapal atau memperbaiki mesin. “Nelayan yang sedang di pelabuhan bisa langsung salat di situ,” tambahnya.

Keindahan Al-Kautsar tak hanya menjadi milik nelayan. Mereka yang datang ke Pantai Pengkolan atau sekadar menyesap ketenangan di hutan mangrove seringkali tertegun, lalu mengabadikan keunikan itu dalam bingkai swafoto. Namun di balik lensa kamera para pelancong, esensi sejatinya tetaplah tempat berteduh spiritual.

"Masyarakat umum kalau di situ karena bentuknya bagus ya dibuat spot foto. Tapi intinya, nelayan itu butuh (tempat ibadah)," ujar Agus.

Memasuki bulan suci Ramadan, denyut nadi di Al-Kautsar makin terasa. Tadarus berkumandang, pengajian digelar, dan kultum menjadi santapan rohani bagi mereka yang seharian memeras peluh di bawah terik matahari. “Imamnya dari masyarakat sekitar. Ramadan ini juga banyak kegiatan seperti tadarus dan kultum,” katanya.

Di sana, di dalam perut "kapal" yang tak pernah berlayar itu, para nelayan menemukan dermaga paling damai untuk melabuhkan segala lelah dan doa. (sip/yan) 

Editor : Arya Nata Kesuma
#Kecamatan paciran #tempat ibadah #lamongan #Musala Al Kautsar #gotong royong #kapal klotok