radarlamongan.co - jawaposradarlamongan - Sunyi malam di Masjid Sabilillah di Desa Pangkatrejo, Kecamatan Sugio, tidak lagi menjadi milik desau angina.
Melainkan milik lantunan ayat suci dan sujud yang panjang.
Khususnya di ufuk sepuluh malam terakhir Ramadan.
Ada pergeseran waktu yang syahdu; ketika sebagian besar dunia terlelap dalam mimpi, jamaah di Sabilillah justru baru memulai "pesta" spiritualnya.
Ritual iktikaf dan salat tarawih seakan saling beriringan.
Sebab, salat tarawih tidak lagi digelar selepas isya, melainkan bergeser ke pukul 02.00.
‘’Seperti tadi (dinihari Selasa), tarawih saat dinihari hinga menjelang sahur bersama – sama,’’ tutur Ketua Takmir Masjid Sabilillah, Radi’im Saputro.
Suasana kian khusyuk dengan hadirnya imam - imam pilihan.
Takmir sengaja menghadirkan sosok-sosok muda penghafal Alquran (hafidz) untuk memimpin jalannya salat.
Suara mereka yang jernih, membawa getaran makna ke setiap sudut relung hati jamaah yang hadir.
Kemeriahan spiritual ini tak hanya milik para sesepuh. Para pemuda hingga bocah - bocah turut serta memecah sepi malam dengan kegiatannya mereka.
‘’Jadi yang ikut, tak hanya orang tua. Namun, juga beberapa remaja hinga anak – anak juga ikut meramaikan saat malam tersebut,’’ imbuhnya.
Ada tiga amalan yang konsisten dijaga di sini demi mengikuti jejak Rasulullah: menghidupkan malam dengan ibadah tanpa tidur sore, membangunkan keluarga untuk bersimpuh bersama, serta bersungguh - sungguh dalam munajat.
Masjid praktis tak pernah sepi. Sejak berbuka hingga sahur, silih berganti wajah-wajah penuh harap bersandar di pilar-pilar masjid.
Sebagai penutup perjuangan menahan kantuk, pihak takmir menyiapkan hidangan sahur bersama secara prasmanan. Menunya pun berganti setiap hari agar jamaah tetap bersemangat. Di atas piring-piring itu, tersaji keberkahan yang disantap bersama dalam ikatan ukhuwah yang erat, sebelum fajar kembali memanggil untuk memulai puasa yang baru. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma