radarlamongan.co - jawaposradarlamongan – Hujan mungkin masih setia membasuh langit Lamongan.
Bagi jamaah Masjid Jami Darussalam Blawi, air hanyalah dekorasi alam yang tak mampu mendinginkan nyala iman.
Di Karangbinangun, saat Bengawan Jero kembali menyapa dengan luapan yang tak diundang, sebuah menara megah tetap berdiri tegak, seolah menjadi mercusuar spiritual di tengah kepungan air.
Halaman masjid itu kini menyerupai cermin raksasa.
Sejak Desember, intensitas hujan memang membuat kawasan ini terimbas.
Air setinggi mata kaki orang dewasa mengepung sisi luar, memaksa siapa pun yang datang untuk sedikit menyingsingkan sarung atau mengangkat mukena.
Namun, pemandangan itu tak lantas menyurutkan langkah.
Para perintis masjid ini pada tahun 2000 seolah sudah berdialog dengan alam. Mereka mendesain bangunan dengan konsep panggung yang tinggi.
Hasilnya, meski halaman dikepung air, ruang sujud tetap kering dan hangat.
Ketua Takmir Masjid Jami Darussalam Blawi, Luqman Hakim, mengatakan, kegiatan tarawih, tadarus dan jamaah salat wajib masih berjalan seperti biasa.
Apalagi, air tidak sampai masuk ke dalam masjid. Pengajian menjelang magrib, buka bersama yang guyub, hingga tarawih dan tadarus, tak terganggu oleh genangan.
Bahkan, 6 Maret lalu, Masjid Jami Darussalam seolah menjadi magnet bagi mereka yang datang dari jauh. Rombongan safari dari Pondok As-shofah, Krian, Sidoarjo, memilih masjid ini sebagai pelabuhan silaturahmi.
Di tengah kepungan air, mereka larut dalam ibadah dan doa, membuktikan bahwa ukhuwah tak bisa dibatasi oleh batas air. “Alhamdulillah warga juga antusias mengikuti ngaji bersama saat safari, dan ini hanya untuk mempererat silaturahmi,” ujarnya.
Masjid berkapasitas 700 jamaah ini memang bukan sekadar bangunan beton. Ia adalah jantung bagi warga Blawi dan sekitarnya. Di luar Ramadan pun, setiap malam Jumat, gema istighosah selalu pecah di sini, disusul pengajian rutin setiap Sabtu malam setelah maghrib.
Selama puasa ini, disediakan takjil sekitar 150 bungkus. Sebuah pesan tersirat bahwa di tengah ujian alam, kedermawanan tak boleh ikut tenggelam. “Kalau tarawih biasanya hanya lantai satu, salat id yang full, lantai satu dan dua,” jelas Luqman.
Bagi warga Blawi, banjir mungkin adalah tamu tahunan yang merepotkan. Namun di Masjid Jami Darussalam, bagi mereka, sujud adalah salah satu cara terbaik untuk melampaui segala ujian alam. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma