radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Angin yang menyusup di antara pilar-pilar megah itu membawa aroma yang tak asing bagi para perindu.
Sebuah wangi yang seketika melontarkan ingatan sejauh ribuan kilometer, menyeberangi samudera menuju jantung kota Makkah.
Di Masjid Namira, Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung, rindu akan Baitullah tak perlu lagi dipendam sendirian; ia menguar melalui sela-sela karpet yang empuknya serupa dekapan lantai Masjid Nabawi.
Ramadan di masjid ini bukan sekadar hitungan jam menahan lapar, melainkan sebuah perjalanan rohani yang memanjakan indra.
Wangi khas Masjidilharam yang membalut ruangan seolah menjadi oase bagi mereka yang dahaga akan suasana tanah suci.
Waras Wibisono, ketua Takmir Masjid Namira, menjelaskan, selama bulan suci Ramadan, ada buka bersama di lokasi.
Setiap hari, lebih dari seribu porsi disiapkan. Jika langit cerah tak menitikkan hujan, maka porsi yang ada bakal bertambah.
‘’Di tahun ini, karena puasa Ramadan tidak berbarengan, memilih ikut pemerintah dan nantinya saat salat idul fitri juga menunggu dari pemerintah,’’ ucapnya saat ditemui Jawa Pos Radar Lamongan.
Puncaknya adalah saat sepuluh malam terakhir. Ketika gema iktikaf mulai mengetuk pintu-pintu langit, Namira berubah menjadi "rumah" bagi para musafir rohani.
Tak hanya warga lokal, mereka yang datang dari luar kota pun berduyun - duyun, membawa bekal rindu yang sama.
Takmir telah menyiapkan ruang - ruang istirahat yang dipisahkan antara lelaki dan perempuan, menjaga marwah ibadah dalam ketenangan.
‘’Tempat istirahat sendiri – sendiri, mulai dari perempuan sendiri dan laki tempat sendiri,’’ jelasnya.
Karena kapasitas yang terbatas dan demi kenyamanan, kuota bagi jamaah luar kota yang ingin menginap dipatok di angka 250 orang.
Mereka dapat melarutkan diri dalam doa sejak malam merayap hingga fajar menyingsing, lengkap dengan sajian sahur yang disiapkan penuh takzim.
Namira, dengan koleksi potongan kain kiswah asli penutup kakbah di dinding mihrab imam dan hembusan parfumnya, adalah pelabuhan bagi siapa saja yang ingin mencicipi atmosfer Madinah tanpa harus beranjak dari bumi pertiwi. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma