radarlamongan.co - jawaposradarlamongan – Ada yang berbeda saat melintasi Desa Mangkujajar, Kecamatan Kembangbahu.
Sebuah bangunan berdiri kukuh dengan arsitektur yang sekilas membawa ingatan kita pada kemegahan rumah ibadah di tanah suci.
Itulah Masjid Darussalam. Dari luar, masjid ini tampil memikat dengan desain minimalis namun elegan, tipikal bangunan modern di Timur Tengah.
Halamannya yang luas memberikan kesan lapang.
Kesan simpel namun nyaman langsung terasa begitu memasuki area dalam yang mampu menampung sekitar 500 jemaah tersebut.
Sejuk dan tenang, begitulah gambaran atmosfer di dalamnya.
‘’ Dulunya masjid kecil. Direnovasi sejak tahun 2024 yang lalu, sekarang megah ini,’’ kata Kepala Desa Mangkujajar, Sugeng.
Proyek besar ini bermula dari ikhtiar warga yang membuahkan hasil manis berupa kucuran bantuan dari Saudi Arabia.
Namun, kemegahan yang berdiri saat ini bukan semata - mata bantuan tersebut.
Kemandirian warga tetap menjadi motor.
Dana bantuan tersebut dipadukan dengan swadaya masyarakat sekitar yang bahu-membahu menyisihkan rezeki demi tegaknya rumah Tuhan yang lebih layak.
Meski didanai pihak Saudi, urusan estetika tetap menjadi kedaulatan warga Mangkujajar.
Desain bangunan hingga pemilihan warna cat dikonsep sendiri oleh masyarakat setempat, kemudian diajukan dan disetujui oleh pihak pemberi bantuan.
Alhasil, masjid ini menjadi representasi keinginan warga akan tempat ibadah yang modis tanpa kehilangan kesakralannya.
‘’Untuk desainnya dari masyarakat, diajukan ke Saudi Arabia hingga disetujui,’’ jelas Sugeng.
Kehangatan Masjid Darussalam kian terasa saat memasuki bulan suci Ramadan seperti saat ini.
Masjid ini menjelma menjadi pusat filantropi warga. Setiap hari, panitia menyiapkan sedikitnya 250 paket takjil berupa nasi bungkus untuk berbuka puasa bersama.
Pembagian takjil dilakukan secara terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang organisasi atau golongan.
Semua dirangkul untuk bersama-sama mencecap keberkahan di bawah naungan kubah Darussalam. (mal/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma