radarlamongan.co - jawaposradarlamongan – Matahari di atas ubun - ubun saat azan duhur berkumandang dari menara Masjid Miftahul Huda, Desa Balun, Kecamatan Turi, siang itu.
Satu per satu jemaah berdatangan. Sekilas, aktivitas ibadah itu terlihat lazim, seperti jamaknya rutinitas di ribuan masjid lain di tanah air.
Namun, di desa ini akan terlihat sebuah pemandangan yang barangkali bisa membuat dada terasa lebih lapang.
Di tempat ini, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan nyata dalam tata letak bangunan.
Di sisi selatan masjid, hanya terpisah jalan sempit selebar enam meter, berdiri sebuah pura dengan arsitekturnya yang khas.
Sementara di bagian timur, tepat di seberang lapangan, sebuah gereja berdiri.
Tiga rumah Tuhan ini berbagi langit yang sama, menghirup udara yang sama, dan berdiri di atas tanah yang selama puluhan tahun tak pernah memercikkan api konflik.
‘’ Sudah terbiasa hidup dilingkungan ini. Kalau masalah berteman biasa, bedanya ketika ada kegiatan keagamaan, dan saling menjaga,’’ ucap Ketua Takmir Masjid Miftahul Huda, Rokhim.
Laki - laki 62 tahun itu adalah saksi hidup bagaimana label "Desa Pancasila" yang disematkan pada Desa Balun bukanlah sekadar pemanis di papan nama desa.
Di sini, toleransi bukan kata benda yang mati di dalam kamus, melainkan kata kerja yang dipraktikkan setiap hari.
Masyarakat sudah memahami dan mengetahui kondisi desanya. Saat Ramadan tiba, ritme toleransi itu semakin terasa denyutnya.
Komunikasi antar umat bukan lagi soal formalitas, melainkan kesadaran. Rokhim menceritakan, jika ada kegiatan bertepatan dengan waktu salat tarawih, maka mereka secara sukarela mengecilkan volume pengeras suara.
‘’ Katakanlah mungkin kalau ada kegiatan bersamaan dengan salat tarawih, sound sistem diperkecil, saling menjaga,’’ tuturnya.
Tak hanya menjaga, komunikasi lintas iman juga terjalin lewat undangan kegiatan. Saat perayaan natal, tokoh agama lain dan pemerintah desa turut diundang. Begitu pula ketika masjid menggelar kegiatan halalbihalal, tokoh agama kristen maupun hindu turut diundang.
‘’ Kalau tahun kemarin itu remaja masjid yang mengadakan halalbihalal di lapangan. Warga muslim keseluruhan, yang lain tokoh agama,’’ imbuhnya.
Selama Ramadan, salat tarawih digelar setiap malam dengan selingan ceramah tiga hari sekali. Majelis taklim menjelang berbuka juga rutin diadakan tiap tiga hari. Sebagai bentuk toleransi, tadarus Alquran menggunakan pengeras suara atas dibatasi hingga pukul 22.00. Setelah itu, kegiatan boleh tetap berjalan hingga dinihari, namun dengan pengeras suara kecil.
‘’ Harapan saya, agama keyakinan masing-masing, kita tetap berdampingan, kita tetap rukun, saling menjaga dan penting menjalankan ibadahnya sebagaimana agamanya masing-masing,’’ jelasnya.
Setiap sore di Ramadan ini, halaman masjid riuh dengan pembagian takjil. Ada sekitar 400 bungkus makanan yang dibagikan setiap harinya. Jumlah ini meningkat dari tahun lalu yang hanya 350 paket. Semuanya murni sumbangan swadaya masyarakat. ‘’ Setiap hari selama satu bulan. Ada snack bagian tadarus, juga ada,’’ katanya. (sip/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma