Berita Utama Event Hobi Kriminal Lamongan Lamongan Banget Nasional Pendidikan Persela Politik Sportainment Tecno-Oto Wisata & Kuliner Wisata Kuliner

Potret Toleransi di Lamongan: Masjid Muhammadiyah dan NU Berdampingan, Saling Bantu Bangun Rumah Ibadah

Rika Ratmawati • Kamis, 26 Februari 2026 | 16:50 WIB

KURANG 5 PERSEN: Jamaah yang mengikuti kajian di Masjid At-Taqwa Desa Kebalankulon, Sekaran. Pembangunan masjid ini sebagian dari sumbangan warga yang merantau di luar pulau. (RIKA RATMAWATI/RDR.LMG)
KURANG 5 PERSEN: Jamaah yang mengikuti kajian di Masjid At-Taqwa Desa Kebalankulon, Sekaran. Pembangunan masjid ini sebagian dari sumbangan warga yang merantau di luar pulau. (RIKA RATMAWATI/RDR.LMG)

radarlamongan.co – jawaposradarlamongan - Di satu sudut, sebuah serambi masjid masih menampakkan deretan material yang belum sepenuhnya tuntas.

Namun, begitu melongok ke dalam, kemegahan Masjid At-Taqwa di Desa Kebalankulon, Sekaran ini langsung menyergap mata.

Pengerjaan masjid milik Muhammadiyah tersebut dilakukan sejak April 2004.

Kini, pembangunannya sudah menyentuh angka 95 persen. Kapasitas masjid itu 500 jamaah, bahkan bisa lebih dengan memanfaatkan serambinya.

Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sekaran, Munir Al Amin, menceritakan bahwa perjalanan fisik At-Taqwa cukup lama.

Strateginya, bongkar pasang. Bangunan lama dirobohkan, kemudian dibangun baru. Sehingga, pengerjaannya tidak instan.

Bahkan, tiga kali mengalami pemugaran. Semua bangunan yang baru, hanya menyisakan halaman depan yang segera diselesaikan.

“Sisa depan, kami bersyukur karena bangunan ini luar biasa bagus, sehingga jamaah semangat salat di masjid,” terangnya.

Pembangunan masjid ini murni dari donatur jamaah, ihwan NU. Juga ada ‘’kocek" dari perantau.

Warga Kebalankulon yang sukses di luar Jawa tak lupa pada akar mereka. Uang hingga material disumbangkan untuk membantu proses pembangunannya.

Sehingga dana pembangunan yang mencapai Rp 3 miliar merupakan dukungan dari seluruh jamaah dan dermawan.

“Kami berterima kasih kepada semua dermawan, dan toleransi disini sangat tinggi,” tutur Munir.

Masjid At-Taqwa ini hanya berjarak sekitar 25 meter dari masjid milik warga Nahdlatul Ulama (NU). Harmoni tercipta dengan toleransi yang tinggi.

Selama Ramadan, denyut aktivitas di At-Taqwa kian kencang. Saban Minggu, masjid ini penuh sesak oleh jamaah yang mengikuti kajian.

Juga ada buka bersama. Tak sekadar takjil, panitia juga menyediakan makanan berat. Setiap Jumat, 200 paket takjil dibagikan kepada warga sekitar tanpa memandang latar belakang organisasi. Tujuannya satu: agar mereka juga merasakan keberkahan Ramadan.

Untuk urusan mimbar, Munir mengatakan, imam salat dan kajian dari mubaligh Desa Kebalan. Juga dijadwalkan dari beberapa desa tetangga, seperti Desa Letek, Jugo, Centini, dan Ngarum.

Kini, Munir dan pengurus masjid lainnya tinggal menunggu kepingan terakhir pembangunan. Jika sudah rampung 100 persen, maka jamaah akan lebih tenang dan nyaman beribadah.

Kades Kebalankulon, Andik, mengaku, dua organisasi islam besar di Desanya memiliki toleransi yang kuat. Dua ormas ini mampu menciptakan harmoni sosial yang baik dengan tetap rukun dan gotong - royong.

Dia mencontohkan, ketika proses pembangunan masjid NU, warga Muhammadiyah turut membantu baik fisik maupun materil.

Sebaliknya, saat masjid Muhammadiyah dibangun, warga NU juga aktif membantu secara gotong - royong dan juga material. Sehingga dua masjid sama-sama bagus.

"Alhamdulillah warganya saling rukun, dan kita agendakan buka puasa bersama," terangnya.  (rka/yan) 

Editor : Arya Nata Kesuma
#Kecamatan Sekaran #masjid #harmoni #warga nu #warga muhammadiyah #lamongan #Desa Kebalankulon #potret toleransi