LAMONGAN, Radar Lamongan – Putri Ruhama’ M melihat kakaknya sukses membuat kerajinan lampion di Mataram.
Sang kakak bisa mensuplai sejumlah tempat wisata serta hotel di sana.
Keberhasilan saudaranya itu membuat Putri tertarik.
Sejak 2019, dia mengikuti jejak sang kakak, berbisnis lampion.
Menurut perempuan asli kelahiran Kecamatan Turi itu, lampion menggambarkan masa lampau dan menjadi indah di masa sekarang.
Peluang berjualan lampion masih terbuka lebar karena di Lamongan masih jarang ditemui perajin lampion.
Membuat lampion juga tidak terlalu sulit bagi Putri.
Dia sudah mendapatkan bekal dari kakaknya.
Selain itu, bahan – bahan untuk produksi lampion mudah didapat.
Benang, kain, kertas, hingga lem banyak dijual di toko.
Hingga saat ini, dia merasa respon dari konsumen cukup baik.
Penjualan terus berjalan.
Meski berjualan lampion bukan kegiatan utamanya, Putri selalu meluangkan waktu untuk membuat kerajinan sejenis lentera itu.
Jika tidak ada kegiatan lain, maka sehari dia bisa memproduksi 10 - 15 lampion.
Jika ada pesanan banyak, maka Putri meminta bantuan santri pondok agar deadline pesanan terkejar.
Pasarnya paling banyak masih dari Lamongan.
Namun, pesanan dari Kabupaten Gresik, Bojonegoro, dan Tuban juga mengalir.
“Alhamdulillah ada kesibukan lain juga sebagai guru, bendahara dan beberapa kegiatan.
Jadi harus bisa membagi waktu, tapi dengan membuat lampion ini bisa mengusir rasa jenuh juga,” tuturnya.
Harga lampion yang dijual Putri menyesuaikan ukuran dan bahan.
Putri mengatakan, paling murah dibanderol Rp 13.500 per lampion untuk bahan kertas.
Normalnya, dia produksi lampion berbentuk bulat dan tabung.
Untuk ukuran 30 cm dibanderol Rp 20 ribu tanpa lampu.
Jika ada permintaan khusus, maka harga lampion diitung ulang.
Putri mencontohkan pesanan lampion berbentuk bintang berukuran 60 x 60 cm.
Dia menjual dengan harga Rp 75 ribu per lampion.
“Saya hanya stok dua jenis bulat dan tabung, harganya yang standar karena biasanya untuk anak sekolah,” terang guru TIK di SPMAA itu.
Anak – anak membutuhkan lampion untuk kebutuhan sekolah seperti pawai taaruf, pawai malam takbiran, maupun perayaan HUT RI.
Bagi Putri, proses pembuatan lampion tak terlalu rumit. Untuk memutarkan benang ke bola, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Benang waal dicelupkan ke lem dibentuk menggunakan bola.
Ketika sudah kering, bola dikempeskan.
Saat proses pengeringan, tergantung panas.
Paling cepat 36 jam.
“Kalau musim penghujan memang agak lama keringnya dan biasanya produksinya menumpuk, karena yang lama proses pengeringannya,” ujar konselor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pemkab Lamongan itu.
Putri akan terus menekuni pembuatan lampion ini.
Bahkan dia juga mengajari santrinya untuk membuat lampion.
Santrinya bisa memiliki ilmu nonakademik yang bermanfaat nantinya. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma