radarlamongan.co – jawaposradarlamongan – Menjadi seorang pelari marathon, tak sekadar dituntut harus bisa berlari.
Seorang pelari juga harus memerhatikan asupan nutrisinya.
Selain itu, ada yang mengatur jadwal program latihan agar kondisi tubuhnya terjaga dan terhindar dari cedera.
Efi Neo Wati, salah seorang pelari marathon perempuan di Lamongan yang masih eksis di usia 42 tahun, mengaku setiap hari selalu meluangkan waktu untuk berlari 5 – 8 kilometer (km).
Dalam seminggu, ada dua hari untuk kelas bersama pelatihnya.
Waktu istirahat full cukup satu hari. “Selain nutrisi, vitamin tulang, kita butuh waktu istirahat dan biasanya yang mengatur itu memang pelatih, sesuai kemampuan masing-masing,” tuturnya.
Selama latihan maupun persiapan mengikuti event, sering ada pendampingan program.
Salah satunya untuk mengatur kecepatan lari, interval, latihan long run, dan langkah kaki.
Ada periode tertentu dengan target yang dicanangkan.
Seperti minggu pertama harus menyelesaikan berapa kilometer hingga mendekati kegiatan dengan target 50 km lebih.
“Saya sangat senang keluarga dukung, kemudian anggota di komunitas juga membantu, ada pelatih juga,” ujar pelopor lari dari klub Segoborunita ini.
Ketika menjalani program long run 30km untuk persiapan BTN Jakim 2025, cuaca Lamongan sedang panas - panasnya.
Track di Lamongan tidak merata, membuat Efi mengalami salah tumpuan.
Dia harus mencari fisio untuk menyembuhkan cederanya.
“Kalau lari ini kan kekuatan otot, kemudian usia juga. Tapi, alhamdulillah saya berhasil menyelesaikan target itu,” terang perempuan berkacamata tersebut.
Berlari bagi Efi banyak bonusnya. Selain senang, paling penting tentu saja, sehat. (rka/yan)
Editor : Arya Nata Kesuma